Peneliti Center fo Transportation and Logistics Studies Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) Arif Wismadi mendorong pemerintah memberikan subsidi untuk truk listrik.
Menurut Arif, subsidi kendaraan listrik ke angkutan barang dibutuhkan karena semua lapisan masyarakat pasti membutuhkan barang untuk didistribusikan.
"Semua orang pasti butuh barang," ujarnya dalam sesi diskusi acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (7/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menunjukkan harga unit truk listrik saat ini masih sangat mahal, berkisar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan truk konvensional.
Arif menilai kebijakan insentif kendaraan listrik yang berjalan saat ini mengalami ketidaktepatan sasaran. Menurut dia, subsidi kendaraan listrik lebih banyak dinikmati oleh masyarakat kelas atas yang membeli mobil listrik pribadi.
"Kalau angkutan penumpang kita lihat yang mendapat subsidi biasanya orang-orang kaya. Dari sisi pembelian barangnya juga iya (mendapatkan subsidi), kemudian pengoperasian juga iya," ujar Arif.
Guna mempercepat adopsi, Arif juga mengusulkan adanya relaksasi dari sektor perbankan terkait skema pembiayaan.
Ia mendorong bank untuk mempermudah akses kredit truk listrik bagi pelaku berskala UMKM misalnya dengan cukup menjadikan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) sebagai agunan.
Urgensi elektrifikasi armada angkutan juga datang dari sisi lingkungan.
Berdasarkan data Korlantas Polri, populasi armada truk dan bus di Indonesia hanya berkisar 2,3 juta unit atau merepresentasikan porsi sangat kecil yakni 3,9 persen dari total populasi 150 juta kendaraan konvensional di jalan, tetapi CO2 yang dihasilkan paling besar.
(sfr/sfr)