BPS Wanti-wanti Ekonomi RI Tak Bisa Andalkan Ekspor Berbasis Komoditas

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 11:28 WIB
BPS memproyeksikan perekonomian Indonesia tidak akan sanggup bertahan dalam jangka panjang apabila terus-menerus mengandalkan ekspor komoditas mentah. (CNN Indonesia/Dela Naufalia Fitriyani).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan perekonomian Indonesia tidak akan sanggup bertahan dalam jangka panjang apabila terus-menerus mengandalkan ekspor komoditas mentah tanpa sentuhan teknologi dan hilirisasi.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan ketergantungan pada penjualan bahan mentah terbukti mengikis pangsa pasar Indonesia di tingkat global sangat dalam beberapa dekade terakhir.

Amalia mencontohkan sejarah kelam kemunduran sejumlah komoditas unggulan Nusantara di pasar dunia. Pada 1927, Indonesia sempat menguasai 37 persen pangsa ekspor karet dunia, 10 persen gula, dan 16 persen teh.

Namun, akibat ketiadaan inovasi dan industri olahan hilir, pangsa pasar global komoditas tersebut kini anjlok drastis tinggal menyisakan 2,4 persen untuk karet, 0,75 persen untuk gula, serta 0,67 persen untuk teh.

"Artinya, perekonomian yang berbasis komoditas tanpa sentuhan teknologi, tanpa diolah menjadi produk hilir yang bernilai tambah tinggi tidak akan sustain. Nah, oleh sebab itu, saatnyalah sekarang kita bagaimana mengolah sumber daya alam yang kita miliki menjadi produk yang bernilai tambah tinggi dengan sentuhan teknologi," ujar Amalia dalam acara Mata Lokal Fest 2026 di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Rabu (7/10).

Ia menyampaikan potensi lonjakan nilai tambah yang berkali-kali lipat jika komoditas lokal berhasil diolah secara optimal di dalam negeri.

Misalnya, produk kelapa sawit mampu melipatgandakan nilai tambah 4 hingga 6 kali lipat saat diolah menjadi minyak goreng, biji kopi naik 2 hingga 3 kali lipat ketika menjadi kopi bubuk, dan kelapa butiran melonjak nilainya 2 hingga 5 kali lipat jika diubah menjadi minyak kelapa atau Medium-Chain Triglyceride (MCT) yang bernilai tinggi di pasar dunia.

"Kalau kita belajar dari Singapura bisa mem-branding teh TWG, padahal dia tidak punya kebun teh. Kemudian, Maroko bisa punya branding Bacha Coffee yang terkenal di dunia, tapi dia biji kopinya impor dari beberapa negara lain. Tapi nilai tambah yang diciptakan adalah branding, kemasan, teknologi, dan lain-lain," ungkapnya.

Menurut Amalia, Indonesia mempunyai sumber daya alam melimpah yang dinilai memiliki modal jauh lebih kuat untuk mendominasi pasar dunia jika diimbangi pengemasan, branding, dan teknologi.

Sektor kopi, misalnya, menjadi salah satu bukti prospek cerah industri olahan dalam negeri.

Kini, Indonesia mempunyai jumlah kedai kopi terbanyak di dunia yang mencapai 461.991 kedai, serta mengantongi nilai ekspor kopi sebesar US$1 miliar atau setara 208 ribu ton pada Semester I 2026.

"Kita sudah punya potensi banyak yang terus harus kita branding arah global, tapi tidak hanya berhenti di situ saja karena Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam yang bisa kita dorong dengan teknologi, dengan nilai tambah untuk menciptakan produk yang kompetitif di pasar global," ujar Amalia.

(fln/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK