Sampoerna Perkuat Pendampingan UMKM Lewat Ekosistem Berkelanjutan SETC

HM Sampoerna | CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 11:02 WIB
HM Sampoerna
(Foto: Arsip HM Sampoerna)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kolaborasi, transfer pengetahuan, serta keterhubungan dengan jejaring pasar diyakini penting dalam upaya membangun ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Director of Stakeholder Relations and Sustainability PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna), Romulus Sutanto menyatakan, semangat berbagi dan gotong royong dapat memperluas manfaat pengembangan usaha ke lebih banyak pelaku UMKM dan komunitas di sekitarnya.

Menurutnya, keberhasilan usaha tidak semata-mata tercermin dari keuntungan yang diperoleh, tetapi juga manfaat yang dapat diberikan kepada pelaku usaha lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semakin banyak menabur, semakin banyak kita menuai," kata Romulus dalam kegiatan Bootcamp UMKM untuk Indonesia (UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas, Membuka Pasar Global di Jakarta, Rabu (30/9).

Bootcamp yang digelar Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) pada 29-30 September 2026 itu melibatkan lebih dari 180 pelaku UMKM binaan SUI/SETC dari seluruh Indonesia, serta 50 UMKM Jakpreneur.

Kegiatan yang dipayungi Program Keberlanjutan "Sampoerna untuk Indonesia" ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang Sampoerna membangun ekosistem kewirausahaan melalui peningkatan kapasitas dan perluasan akses pasar bagi UMKM.

Sejak 2007, SETC telah melatih lebih dari 108.000 pengusaha UMKM, serta memfasilitasi penetrasi ekspor UMKM seperti ke Tiongkok melalui The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair 2026, bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta.

Pengusaha binaan SETC juga turut berpartisipasi di acara Jakarta International Investment, Trade, Tourism and SMEs Expo (JITEX).

Ekosistem SETC turut diperkuat Sampoerna Retail Community (SRC) yang membina lebih dari 250.000 toko kelontong yang mencatatkan total omzet Rp251 triliun per tahun, atau setara 9,46 persen dari PDB ritel nasional 2025.

Dalam upaya memperluas jangkauan pembinaan, SETC mengembangkan Collaborator Hub sebagai jejaring penggerak pemberdayaan UMKM di tingkat lokal. Saat ini, hadir 30 Collaborator Hub tersebar di 17 provinsi, yang secara berkelanjutan mendampingi lebih dari 2.300 UMKM.

Jejaring tersebut menjalankan pendampingan berbasis praktik, membangun kolaborasi, serta membantu pelaku usaha mengakses pasar, sehingga dapat memperluas dampak ekonomi di daerah.

Romulus menilai, pendekatan tersebut penting karena pelaku UMKM yang telah berkembang dapat membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada pengusaha lain. Efek berantai dari proses itu selanjutnya berpotensi menjangkau keluarga hingga komunitas di sekitar usaha.

"Bayangkan, ada berapa jumlah kepala keluarga yang Bapak dan Ibu bantu semua di sini. Itu yang membuat saya merinding," katanya kepada para Collaborator Hub yang hadir.

Romulus mengakui, semangat yang sama juga ditemuinya selama 18 tahun membina ekosistem SRC. Ada kisah tentang sejumlah pemilik toko kelontong anggota SRC yang bersedia memberikan pendampingan kepada toko lain, meski produk yang dijual serupa sehingga berpotensi menjadi pesaing.

Kepada pemilik toko, Romulus langsung menanyakan benefit yang didapat jika mendampingi toko lain. Jawaban mereka mengingatkan pada prinsip bahwa semakin banyak kebaikan yang ditabur, tak habis berkah yang akan dituai.

Romulus menilai, praktik itu menunjukkan bahwa kolaborasi tidak harus berhenti ketika pelaku usaha berhadapan dengan kompetisi.

Pada kesempatan yang sama, Romulus juga memperkenalkan Falsafah Tiga Tangan sebagai salah satu landasan Sampoerna dalam menjalankan bisnis dan program pemberdayaan.

Ketiga prinsip itu meliputi menghasilkan produk berkualitas bagi konsumen dewasa, memberikan nilai kepada pemangku kepentingan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Prinsip tersebut diyakini relevan bagi UMKM, terutama ketika produk lokal mulai diarahkan pada pasar yang lebih luas.

Cerita Pemberdayaan dari Daerah

Model pendampingan itu telah dijalankan Collaborator Hub asal Balikpapan, Nurul Ahdaniyah. Melalui PT Bungas Food Nusantara, ia mengembangkan minuman herbal Bungas Wedang Dayak melalui kerja sama dengan 10 kelompok tani yang menanam bawang dayak.

"Melalui SETC ini saya bisa sharing dengan teman-teman bagaimana usaha bisa berkembang. Dan memang benar, ketika kita menanam kebaikan, kita akan menuai," kata Nurul.

Dalam SETC, Nurul juga mempelajari cara ekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Malaysia, Nigeria, dan Australia. Dia berharap produk berbasis bawang dayak dapat memperoleh pasar yang semakin luas.

Cerita lain datang dari Collaborator Hub asal Kebumen, Novita (Ovi), melalui Komunitas Pelepah Berdaya. Komunitas tersebut memanfaatkan limbah pelepah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi, dan membagikan ilmu lewat pelatihan kepada warga lembaga pemasyarakatan.

"Saya itu grassroot, langsung ke masyarakat bawah banget, karena saya membina warga lembaga pemasyarakatan," ujar Ovi.

Menurutnya, pengolahan pelepah tidak hanya menghasilkan produk yang memiliki nilai jual, tetapi juga membantu warga binaan memperoleh keterampilan dan kepercayaan diri.

"Saat mereka (warga binaan) tahu bagaimana cara memanfaatkan pelepah pisang tadi, 'oh ternyata produk yang saya buat bisa laku di pasaran', mereka itu dengan bangga bercerita ke keluarganya. Saya melakukan pelatihan di rutan, mereka sangat antusias," tutur Ovi.

Dengan pola pendampingan ini, UMKM bergerak dari peningkatan kemampuan pengusaha secara individual menuju pembentukan jejaring yang memungkinkan pengetahuan, akses pasar, dan manfaat ekonomi untuk diteruskan kepada pelaku usaha maupun komunitas lainnya.

(rea/rir)
placeholder