Musim Kering, Mentan Pastikan Produksi Pangan Tetap Aman

Kementan | CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 13:33 WIB
Kementan
(Foto: Arsip Kementan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa produksi padi nasional tetap aman di tengah dampak El Nino, yang saat ini berdampak terhadap sekitar 50 ribu hektare lahan.

Amran menilai, angka tersebut relatif kecil dibandingkan dengan total luas pertanaman padi yang diproyeksikan mencapai sekitar 11 juta hektare hingga akhir tahun.

"Sekarang mungkin 50 ribuan hektare (lahan terdampak). Tiga bulan lalu, 30 ribu hektare. Perkiraan sekarang maksimal 50 ribu hektare dan itu masih aman," kata Mentan Amran usai melakukan inspeksi mendadak di lingkungan Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (8/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mentan menyebut luas area terdampak tersebut masih berada dalam skala yang terkendali dibandingkan total luas pertanaman padi nasional.

Di sisi lain, pemerintah terus melakukan berbagai intervensi di lapangan berjalan untuk menjaga produksi di tengah musim kering, mulai penguatan irigasi, pompanisasi, irigasi perpompaan (irpom), optimalisasi lahan (oplah), hingga penggunaan benih tahan kekeringan dan berproduktivitas tinggi.

"Irigasi jalan, pompanisasi jalan, irpom jalan, oplah jalan, semua jalan. Dan benih yang tahan kekeringan. Ada juga yang produktivitasnya tinggi dengan metode PM-AAS (Pertanian Modern-Advanced Agricultural System)," jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga memastikan keseimbangan antara harga yang diterima petani dan keterjangkauan harga beras bagi masyarakat.

Mentan menyebut, tingginya harga gabah saat ini menjadi keuntungan bagi petani, sementara pemerintah menyiapkan berbagai instrumen untuk menjaga harga di tingkat konsumen. Saat ini, ketersediaan beras nasional juga diyakini mencukupi kebutuhan masyarakat.

"Petani senang kan? Ya makanya kita lakukan operasi pasar, karena beras kita banyak. Petani biarkan nikmati harganya, tetapi Bulog melakukan operasi pasar. Dan ada juga SPHP, kemudian ada juga bantuan pangan," ujarnya.

Lebih lanjut, Amran menyampaikan bahwa peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul dan teknologi pertanian juga berdampak pada peningkatan pendapatan petani.

Dengan metode budidaya dan teknologi yang lebih tinggi, pendapatan petani disebut dapat mencapai sekitar Rp15-16 juta per bulan per hektare.

"Pendapatan petani yang metode baru (PM-AAS), dengan benih unggul, dengan teknologi tinggi itu hitungannya Rp15-16 juta per bulan per hektare. Jadi memang kalau katakanlah setengah hektare, berarti bisa Rp8 juta, dengan metode baru. Ini kita gerakkan seluruh Indonesia," katanya.

Di tengah kondisi produksi yang tetap aman, pemerintah juga mulai menjajaki peluang ekspor beras ke sejumlah negara. Setelah Malaysia, Papua Nugini, dan Timor-Leste dibidik sebagai pasar berikutnya.

"Kita masih jajaki ada dua-tiga negara. Jejaki Filipina, Papua Nugini, dengan Timor Leste, negara tetangga kita," ujar Mentan Amran.

(rea/rir)
placeholder