Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Klaim Rusia-Ukraina Sepakat Damai

CNN Indonesia
Senin, 12 Okt 2026 10:34 WIB
Harga minyak dunia anjlok lebih dari 1 persen pada Senin (12/10) usai Trump mengklaim Rusia dan Ukraina sepakat setop serang fasilitas energi masing-masing. (Foto: iStock/zorazhuang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia anjlok lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (12/10) seiring dengan harapan bertambahnya pasokan minyak Rusia.

Harapan pasar muncul usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent terperosok sebesar US$1,37 atau 1,31 persen ke level US$103,35 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$1,30 atau 1,42 persen ke posisi US$90,55 per barel.

Sentimen utama penurunan harga dipicu oleh kabar gencatan senjata energi antara Moskow dan Kyiv yang diumumkan Trump secara mendadak pada Minggu (11/10). Pengumuman ini menyusul kesepakatan pasokan solar antara AS dan Rusia yang diteken pada Jumat (9/10) lalu.

Meski begitu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku masih menunggu rincian teknis kesepakatan tersebut, sedangkan pihak Rusia hingga kini belum memberikan komentar resmi.

Analis Utama KCM Trade Tim Waterer menilai sinyal damai di sektor energi ini cukup ampuh meredakan ketegangan pasokan dalam jangka pendek. Namun, ia menyoroti pasar masih skeptis.

"Masih ada pertanyaan mengenai keabsahan dan keberlanjutan gencatan senjata semacam itu. Tanpa bukti yang lebih jelas bahwa kesepakatan benar-benar bertahan, ruang penurunan harga tampaknya masih terbatas," ujar Waterer dikutip Reuters.

Di sisi lain, harga Brent dinilai masih bakal bertahan di atas level US$100 per barel akibat memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Hal tersebut dipicu karena Kelompok Houthi baru saja mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone ke Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu (10/10) yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Arab Saudi juga melaporkan adanya serangan susulan di lokasi yang sama pada Minggu.

Merespons serangan itu, Trump membuka opsi AS untuk bergabung dengan militer Saudi dalam menggempur Houthi di Yaman. Langkah ini mengancam akan memperluas konflik yang memanas sejak AS dan Israel menggempur Iran pada Februari lalu.

Ancaman pasokan juga semakin nyata setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan dua serangan baru terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan sekitar Pelabuhan Sohar, Oman, selama akhir pekan. Gangguan di jalur vital ekspor minyak Timur Tengah ini pun kian meningkat.

Karena itu, Goldman Sachs langsung mengerek proyeksi harga Brent untuk periode Desember menjadi US$90 per barel dari estimasi sebelumnya sebesar US$85 per barel.

"Kami mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan dari Timur Tengah pada akhirnya bakal menekan harga minyak mentah, meski potensi eskalasi baru tetap membayangi," tulis tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven.

Goldman Sachs juga memproyeksikan harga WTI yang saat ini terpaut jauh di bawah Brent akibat lonjakan biaya pengapalan AS-Eropa bakal berada di rata-rata US$81 per barel pada Desember 2026 dan melandai ke US$73 per barel pada 2027.

Sementara itu, dari Teluk Meksiko, raksasa energi seperti Shell, Chevron, dan BP mulai memulihkan produksi serta mengembalikan pekerja ke anjungan lepas pantai usai Badai Isaias menerjang wilayah tersebut pada Sabtu (10/10) dini hari.

(fln/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK