EV, Industri Hijau dan Aksi Menembus Biru Langit RI

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 14:20 WIB
Pelanggan mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di Jakarta, Selasa (3/12/2024). Berdasarkan data PT PLN (Persero), per November 2024 tercatat jumlah SPKLU sebanyak 2.490 unit untuk kendaraan roda empat dan
Transisi energi hijau tak hanya berhenti di jalan raya, tetapi bisa diperluas ke berbagai aspek termasuk konsep gedung hijau. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/ALIF BINTANG),

Perkuat Fondasi SDM

Peralihan teknologi membutuhkan tangan yang mampu menguasainya. Sayangnya, kesenjangan keterampilan di Indonesia masih terlihat. Dalam hal ini, tenaga kerja lebih banyak terlatih pada perakitan, belum pada produksi mendalam, perancangan, hingga pemeliharaan sistem canggih.

Ketua Pusat Keterampilan Energi Terbarukan Sim Budiman Setiawan menekankan perlunya tenaga kerja yang memahami tidak sekadar merakit, tetapi juga mengelola sistem energi cerdas, teknologi baterai, hingga keamanan data yang kini menyatu dengan kendaraan masa depan.

Menurut Sim, dalam lima tahun ke depan Indonesia harus mampu membangun integrated green work force, di mana di sini SDM mampu mendesain, mengembangkan, mengintegrasikan, mengoperasikan, dan memelihara teknologi industri hijau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sim mencontohkan kendaraan listrik dan industri rendah karbon harus didukung sistem energi yang semakin bersih dan reliable. Berikutnya, SDM juga harus memahami mengenai baterai di kendaraan listrik yang merupakan bagian dari industri hijau.

"Sistem energi masa depan harus bisa dikontrol karena kita ketahui bersama EV ini menggunakan IoT, sensor data, AI, fiber security, dan juga energi manajemen sistem," ujar Sim.

Di tempat yang sama, Guru Besar Universitas Pertamina Prof Iman Kartolaksono Reksowardojo mengungkapkan kekayaan alam dan letak geografis Indonesia memberikan keunikan yang tidak dimiliki negara subtropis.

"China, Amerika, Jepang, Eropa itu kan di sub-tropis. Mereka tidak punya kekayaan alam untuk bahan bakar nabati cair ya sehebat Indonesia yang kita sudah buktikan bahwa nomor satu," ujar Iman.

Menurut Iman, keberhasilan program biodiesel di Indonesia selama ini membuktikan bahwa bukan hal teknis yang paling sulit, melainkan konsistensi kebijakan, dukungan jangka panjang, dan keterlibatan swasta. Pelajaran ini menjadi modal berharga untuk membangun ekosistem transportasi yang mandiri dan berkelanjutan.

"Teknis sebetulnya saya pengalaman saya 20 tahun itu ya bisalah pasti kan banyak orang pintar ya. Tapi yang susah tadi sosial, politik, ekonomi gitu ya. Jadi dan pengalaman saya 20 tahun lebih itu supaya bisa jalan itu mandatorinya itu ya kebijakan," terangnya.

Tak Berhenti di Jalan Raya

Penurunan emisi tidak berhenti di jalan raya. Konsep gedung hijau juga berperan besar. Dalam hal ini, konsep mencakup pengelolaan pencahayaan, pendingin, dan operasional bangunan agar efisien.

"Kita juga melihat bahwa kita tidak hanya melihat emisinya, tetapi untuk longterm-nya itu, yaitu kita bisa melakukan penghematan juga untuk pemakaiannya," ujar Presiden Direktur PT Pollux Hotels Group Tbk Handojo K Setyadi.

Handojo menyebut efisiensi energi dan pengelolaan emisi lingkungan harus dilakukan secara cermat sejak tahap awal pembangunan hingga operasional sehari-hari.

Kontrol dan konsistensi dari tim internal pengelolaan gedung memegang peranan krusial. Tanpa adanya pengawasan berkelanjutan, target penurunan emisi dan penghematan biaya operasional tidak akan tercapai secara maksimal.

"Di mana pun kita bicara untuk tekan emisi sama untuk hemat biaya, kontrol dan konsistensi dari tim kami itu harus berjalan. Tanpa itu, kita melihat hasilnya tidak akan maksimal," ujarnya.

Langit biru Indonesia adalah warisan yang harus dijaga dan diperjuangkan. Transisi energi hijau adalah perjalanan panjang, mulai dari komitmen hingga implementasi yang diiringi kesiapan SDM hingga mewujudkan kemandirian energi.

Hal ini perlu dilakukan demi hari esok yang lebih cerah, untuk kita dan untuk generasi yang akan datang.

(sfr/asa)

HALAMAN:
1 2