Geotab, perusahaan global di bidang connected operations, video telematika, dan insight berbasis AI, menyoroti pentingnya peran kecerdasan armada terhubung (connected fleet intelligence) dalam merespons tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia.
Langkah ini merespons data keselamatan jalan nasional yang mencatat 158.508 kasus kecelakaan sepanjang 2025 dengan korban jiwa mencapai 24.296 orang. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengidentifikasi faktor manusia seperti kelelahan, kelalaian, hingga ketidakpatuhan terhadap prosedur keselamatan, sebagai penyebab dominan.
Kondisi itu menggarisbawahi bahwa keselamatan jalan masih menjadi tantangan besar, khususnya bagi perusahaan yang mengoperasikan armada kendaraan harian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Geotab mengintegrasikan data kendaraan, lokasi, perilaku pengemudi, diagnostik, dan konteks video ke dalam satu ekosistem terpadu.
Pendekatan ini memungkinkan operator armada memperoleh visibilitas lebih dini untuk mendeteksi potensi risiko di jalan sebelum berkembang menjadi insiden, sekaligus mendukung pengambilan keputusan operasional yang lebih tepat.
"GPS memberikan kemampuan bagi operator armada untuk mengetahui posisi kendaraan mereka. Tahap berikutnya adalah memahami apa yang terjadi di sekitar kendaraan, bagaimana kendaraan tersebut dikemudikan, dan tindakan apa yang perlu dilakukan," ujar Alvin Santoso, Business Development Manager Geotab Indonesia dalam diskusi media bertajuk "Smarter Fleets, Safer Roads: The Connected Intelligence Dialogue" di Jakarta pada Kamis (8/10).
"Di Indonesia, dengan kondisi jalan, karakteristik operasional armada, dan kebutuhan mobilitas yang sangat beragam, nilai dari connected intelligence terletak pada kemampuannya untuk mengubah volume data yang sangat besar menjadi informasi yang benar-benar dapat ditindaklanjuti oleh operator maupun pengemudi," tambahnya.
Ekosistem terhubung Geotab itu mencakup MyGeotab, platform pengelolaan armada yang mengintegrasikan informasi kendaraan dan pengemudi dalam satu sistem, termasuk perangkat telematika GO9 yang merekam data kendaraan dan perilaku berkendara seperti lokasi GPS, peristiwa berbasis g force, serta informasi kondisi mesin dan baterai; dan GO Focus Plus, yang menambahkan konteks video berbasis AI dan peringatan di dalam kabin untuk sejumlah risiko tertentu seperti kelelahan, distraksi, dan jarak berkendara yang terlalu dekat (tailgating).
Solusi tersebut didukung oleh skala operasional global Geotab, yang telah memproses lebih dari 100 miliar titik data setiap hari dari sekitar 6 juta kendaraan dan aset terhubung.
Selain data, Geotab juga menghubungkan informasi yang relevan agar dapat diterjemahkan menjadi tindakan selanjutnya.
Dibangun di atas Google Cloud, Geotab memanfaatkan kecerdasan data dan AI untuk membantu mentransformasi pengelolaan armada dari pendekatan reaktif dalam menangani masalah menjadi pendekatan yang lebih proaktif, yakni mengantisipasi risiko sebelum terjadi.
Contohnya, adalah Geotab Ace, asisten AI yang terintegrasi dalam MyGeotab dan didukung oleh Gemini. Lewat Geotab Ace, tim pengelola armada dapat mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa sehari-hari terkait keselamatan pengemudi, kondisi kendaraan, dan utilisasi armada, dan mendapatkan insight secara cepat tanpa memerlukan query yang kompleks maupun penelusuran laporan secara manual.
Untuk memberikan fleksibilitas yang lebih besar, solusi Geotab juga tersedia melalui Google Cloud Marketplace, sehingga dapat menyederhanakan proses pengadaan bagi pelanggan enterprise.
Saat ini, berbagai perusahaan di Indonesia sudah mulai menerapkan pendekatan tersebut dalam operasional mereka.
Sebagai penyedia transportasi darat Garuda Indonesia Group, Aerotrans mengandalkan teknologi Geotab pada lebih dari 250 kendaraannya untuk mendukung kelancaran mobilitas awak pesawat dan tim logistik.
Sejak mengadopsi teknologi Geotab pada 2024, Aerotrans berhasil mengantongi skor keselamatan armada hingga 89 persen, melampaui rata-rata regional.
Penerapan ini juga memangkas potensi kecelakaan per kilometer hingga 61 persen, meredam aksi rem mendadak sebesar 57 persen, serta menekan durasi idling sebesar 22 persen demi efisiensi bahan bakar.
"Kami mencari solusi yang dapat berkembang seiring dengan pertumbuhan bisnis dan operasional kami, serta mampu menyediakan insight secara real-time. Geotab menghadirkan platform yang selaras dengan nilai kami, terutama dalam hal presisi dan keselamatan," ujar Direktur Aerotrans, Kadek Bayu Temaja.
Selanjutnya, ada PT Maya Gapura Intan (MGI) yang baru-baru ini meluncurkan layanan shuttle antarkota TRAVL. Mengoperasikan sekitar 40 kendaraan dengan 100 jadwal keberangkatan harian di rute Jakarta, Tangerang, dan Bandung, TRAVL memprioritaskan keselamatan sebagai keunggulan layanannya.
Sebagai penunjang, TRAVL memanfaatkan teknologi Geotab dan platform MyGeotab, yang kemudian ditingkatkan lewat uji coba GO Focus Plus pada Agustus 2026.
Kini, tim operasional TRAVL dapat meninjau data serta rekaman video yang relevan terkait kejadian tertentu di perjalanan maupun saat evaluasi operasional.
"Kenyamanan sangat erat kaitannya dengan bagaimana kendaraan dikemudikan. Penumpang kami seharusnya tidak perlu merasa bahwa pengemudi terburu-buru atau berkendara terlalu agresif. Teknologi membantu kami untuk meningkatkan standar pelayanan kepada penumpang sekaligus memberikan informasi yang lebih baik untuk mendukung percakapan kami dengan para pengemudi," ujar Head of Business Unit, TRAVL, Syukron Fadillah Alkautsar.
Pengalaman Aerotrans dan TRAVL membuktikan bahwa connected fleet intelligence dapat mendukung kebutuhan mobilitas yang berbeda.
Semakin terhubungnya sistem operasional armada di Indonesia diyakini akan membuka peluang besar bagi para pengelola untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dan aman sebelum risiko berubah menjadi insiden.
(rea/rir)