Harga minyak mentah dunia turun pada Kamis (15/10) dipicu oleh rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang masuk dalam kategori shadow fleet atau armada bayangan.
Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$1,39 atau 1,31 persen menjadi US$104,67 per barel pada pukul 01.16 GMT atau 08.16 WIB.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,02 dolar AS atau 1,07 persen menjadi US$94,07 dolar AS per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana Trump akan menyasar kapal-kapal yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut komoditas energi dari negara-negara di bawah sanksi seperti Rusia, Iran, dan Venezuela.
Lihat Juga : |
Kapal-kapal tersebut rencananya akan diizinkan kembali beroperasi untuk memfasilitasi aliran "minyak legal".
Seorang pejabat di Pemerintah AS mengatakan pelonggaran sanksi dipertimbangkan untuk membantu menekan harga minyak.
Selain sentimen pelonggaran sanksi, pasokan global turut ditopang oleh laporan Badan Energi Internasional (IEA) yang mencatat kenaikan produksi minyak Rusia sebesar 65 ribu barel per hari menjadi 8,43 juta barel per hari pada September.
Namun, angka tersebut masih lebih rendah 870 ribu barel per hari dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
IEA juga menyampaikan ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Timur Tengah meningkat 4,4 juta barel per hari pada September, menjadi sekitar 75 persen dari level sebelum perang.
Penurunan harga komoditas ini terjadi di tengah ancaman geopolitik yang sebenarnya masih membayangi jalur distribusi utama.
Sebelumnya, pasar sempat memanas akibat rentetan serangan kelompok Houthi ke kantor pusat Saudi Aramco dan taktik baru Iran di Selat Hormuz.
Iran akan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya serta sanksi yang lebih ketat yang diberlakukan bulan lalu.
Eskalasi tersebut mengakibatkan sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut curah kering tenggelam di sekitar selat usai dihantam proyektil dalam 24 jam terakhir.
Berdasarkan catatan Reuters, serangan di sekitar Selat Hormuz meningkat tajam selama 10 hari terakhir ini.
Dari sisi persediaan domestik AS, American Petroleum Institute (API) melaporkan adanya penurunan tajam stok minyak mentah hingga 11,1 juta barel pada pekan lalu, angka yang jauh melampaui ekspektasi para analis yang disurvei Reuters.
Meski data tersebut seharusnya memicu kenaikan harga, pasar nyatanya merespons dengan dingin.
"Meski persediaan turun tajam, harga minyak hampir tidak bereaksi. Kegagalan harga untuk naik meskipun ada berita yang mendukung kenaikan menunjukkan investor berhati-hati untuk mengejar kenaikan harga pada level saat ini," tulis Haitong Futures dalam sebuah catatan pada Kamis (15/10).