BI Bongkar Alasan Rupiah Masih Mepet Rp18 Ribu per Dolar AS
Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menekan nilai tukar rupiah hingga masih berada di dekat level Rp18 ribu per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan tekanan tersebut terutama berasal dari inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi suku bunga bank sentral AS, hingga ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak tetap tinggi.
Ia menjelaskan data inflasi AS yang meningkat dari periode sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah membuat harga minyak bertahan di atas US$105 per barel. Kondisi tersebut turut meningkatkan risiko fiskal ke depan.
Lihat Juga : |
"Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen," ujar Erwin dalam pernyataan tertulis, Kamis (15/10).
Erwin menjelaskan memburuknya sentimen pasar global atau risk-off mendorong penguatan dolar AS. Kondisi ini juga meningkatkan tekanan arus keluar dana dari aset portofolio di negara-negara pasar berkembang (emerging markets), di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.
Meski menghadapi tekanan eksternal, BI menyatakan pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD) atau sejak awal kuartal berjalan, rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,17 persen.
"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17 persen," kata Erwin.
Di sisi lain, BI menyebut posisi cadangan devisa Indonesia masih terjaga. Cadangan devisa tercatat sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI mengaku terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya.
Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," ujar Erwin.
Selain intervensi di pasar valuta asing dan obligasi, BI mengelola struktur suku bunga di pasar uang serta menjaga kecukupan likuiditas. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar juga terus dilakukan secara intensif.
Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan eksternal yang berasal dari perkembangan ekonomi AS dan ketidakpastian geopolitik global.