Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.938 per dolar AS pada perdagangan Kamis (15/10) sore. Mata uang Garuda melemah 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang menguat, yakni yuan China sebesar 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,07 persen, dolar Singapura 0,27 persen, yen Jepang 0,38 persen, dan dolar Hong Kong 0,20 persen.
Sementara itu, peso Filipina melemah 0,27 persen dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,20 persen terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kelompok mata uang negara maju, euro menguat 0,62 persen, pound sterling Inggris naik 0,55 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,29 persen, dan franc Swiss menguat 0,78 persen. Sebaliknya, dolar Australia terkoreksi 0,54 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah meski dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury berbalik turun setelah rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS hari ini walau dolar AS dan imbal hasil US Treasury yang berbalik turun setelah rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Menurut Lukman, pelemahan rupiah mencerminkan sentimen pasar yang masih lemah. Tekanan di pasar domestik dan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing turut membebani pergerakan mata uang Garuda.
"Hal ini mencerminkan sentimen pasar yang masih lemah, sementara tekanan risk-off di pasar domestik dan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing masih terus membebani rupiah," katanya.
(lau/pta)