Tekan Impor, Bahlil Resmikan Kilang LPG Cilamaya Senilai Rp645 M

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 16:52 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meresmikan Kilang LPG Cilamaya milik PT ENP dan PT Euroasiatic Jaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10). Ilustrasi. (Foto: Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meresmikan Kilang LPG Cilamaya milik PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) bekerja sama dengan PT Euroasiatic Jaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10).

Fasilitas pengolahan gas tersebut memproduksi LPG hingga 160 ton per hari untuk mendukung ketahanan energi nasional dan menekan angka impor. Nilai investasi kilang LPG itu mencapai US$36 juta atau setara Rp645,7 miliar (asumsi kurs Rp17.940 per dolar AS).

Bahlil menegaskan pembangunan kilang itu sangat penting di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu. Menurut dia, konflik internasional yang terjadi di berbagai kawasan dunia berpotensi mengganggu rantai pasok energi global sehingga efisiensi produksi dalam negeri menjadi sangat mendesak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perang antara Israel-Palestine, Israel-Amerika dan Iran, perang antara Ukraina-Rusia, sekarang melebar ke Arab Saudi, ini melahirkan ketidakpastian tentang energi. Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ujar Bahlil dalam acara peresmian Kilang LPG Cilamaya.

Ia mengungkapkan tingginya impor LPG membuat beban APBN makin membengkak karena kapasitas produksi dalam negeri masih sangat terbatas dibanding kebutuhan masyarakat.

Saat ini, konsumsi LPG nasional menembus 8,5 juta ton per tahun, tetapi produksi lokal baru bisa memenuhi sekitar 1,8 juta ton saja.

"Jadi kita impor itu kurang lebih sekitar 7 sampai 8 juta ton per tahun. Dan total subsidi untuk LPG yang dipakai oleh konsumsi masyarakat, di saat ICP-nya masih di US$70 per barel, itu subsidi kita mencapai Rp87 triliun. Tapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka US$90 sampai US$100 (per barel), itu subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun," terangnya

Dengan hadirnya Kilang LPG Cilamaya, Bahlil menyebut fasilitas baru ini mampu memasok hingga 15 persen kebutuhan harian LPG masyarakat untuk wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

"Kalau 1.000 sampai 1.500 ton per hari hari ini kita bisa melakukan sekitar 160 ton, itu berarti kan 10 sampai 15 persen konsumsi LPG di Jawa Barat dan DKI Jakarta dipenuhi dari kilang ini. Ini kontribusi besar. Kita berangkat dari hal kecil untuk mencapai hal besar," imbuhnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama PT Energi Nusantara Perkasa Sarjono menjelaskan Kilang LPG Cilamaya dibangun menggunakan teknologi kombinasi mechanical refrigerated dan turbo expander untuk mengoptimalkan ekstraksi gas.

Ia menjelaskan fasilitas ini mampu mengolah gas input hingga kapasitas terpasang sebesar 40 MMSCFD.

"LPG yang diproduksi adalah 160 LPG per hari atau setara dengan 52.800 ton per tahun. Kemudian kondensat menghasilkan 320 BPD atau setara dengan 105.600 barrel per tahun," jelas Sarjono.

Sarjono menambahkan bahwa operasional kilang ini merupakan wujud keterlibatan sektor swasta dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui sinergi dengan pemerintah dan BUMN.

"Kami percaya bahwa kemandirian energi nasional harus dibangun melalui investasi nyata, penguatan industri dalam negeri, dan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha," pungkasnya.

[Gambas:Youtube]

(fln/pta)