Dongkrak Ekonomi RI, Airlangga Dorong Ekspor Produk Bernilai Tambah
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong penguatan ekspor produk bernilai tambah untuk mengoptimalkan peluang pasar internasional di tengah dinamika perdagangan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, strategi ini dilakukan dengan menyelaraskan potensi produksi dalam negeri dan kebutuhan negara tujuan ekspor.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kinerja perdagangan nasional melalui pendekatan berbasis komoditas dan pasar. Pemerintah juga memetakan peluang ekspor yang belum tergarap di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia.
Airlangga mengatakan strategi tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi perkembangan neraca perdagangan nasional. Berdasarkan hasil pemetaan, Indonesia masih memiliki ruang untuk meningkatkan ekspor ke sejumlah pasar utama, yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Amerika Serikat, Jepang dan India.
"Pemerintah memandang perkembangan ini perlu direspon melalui penguatan strategi ekspor berbasis komoditas dan pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan antara ekspor Indonesia dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi pelaku usaha," kata Airlangga.
Peluang tersebut terlihat dari potensi export gap atau selisih antara nilai ekspor saat ini dan potensi ekspor maksimal di negara tujuan.
Berdasarkan data 2025, potensi kesenjangan ekspor Indonesia di RRT mencapai US$31 miliar, terutama pada komoditas mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia.
Sementara itu, di Amerika Serikat terdapat potensi export gap senilai USD14 miliar, antara lain pada kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia.
Potensi serupa juga teridentifikasi di Jepang dengan export gap USD5,5 miliar dengan peluang utama pada produk mineral dan logam, produk hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia.
Sementara itu, di India terdapat export gap USD10 miliar berasal dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.
"Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia," tutur Airlangga.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, Pemerintah akan mendorong penguatan ekspor melalui pendekatan berbasis komoditas.
Strategi ini mempertemukan potensi produksi domestik dan kebutuhan spesifik negara tujuan, mencakup sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, dan manufaktur. Pengembangan produk elektronik dan teknologi serta produk telekomunikasi juga menjadi bagian dari pemetaan potensi ekspor.
Sebagai langkah dukungan konkret, Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas Kementerian/Lembaga bersama pelaku usaha guna mengurai berbagai hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standarisasi persyaratan pasar, hingga kendala teknis di lapangan.
"Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret," ujar Airlangga.
(inh)