ANALISIS

Pekerja Bergaji Mungil, Simak Ancaman IHSG Rontok ke Isi Dompetmu!

Laurent Nabila ZT | CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 08:11 WIB
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). IHSG pada pembukaan perdagangan sesi I Jumat (16/10) menyentuh level 5.393,92, turun 469,86 poin atau 8,01 persen dibandingk
IHSG dan rupiah kompak anjlok. Meski tak 'main' saham, pekerja bergaji mungil bisa ikut terdampak. Bagaimana ancaman gejolak pasar ke isi dompet imut warga? (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,64 persen ke level 4.996 pada perdagangan Senin (19/10) usai MSCI mengumumkan untuk mempertimbangkan pasar modal RI turun dari Emerging Market ke Standalone Market.

Indeks saham melemah 188,49 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya, dengan 656 saham terkoreksi, 100 saham menguat, dan 43 saham stagnan.

Mengutip RTI Infokom, nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp25,06 triliun dengan volume sekitar 33,93 miliar saham. Seluruh 11 sektor saham berakhir di zona merah, dengan sektor barang baku mencatat pelemahan terdalam sebesar 4,57 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejolak pasar saham tersebut terjadi di tengah tekanan terhadap rupiah yang berada di sekitar Rp18 ribu per dolar AS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perekonomian yang lebih luas, termasuk daya beli masyarakat dan kesempatan kerja.

Meski sebagian besar pekerja berpenghasilan rendah tidak memiliki saham, mereka tetap berpotensi terdampak secara tidak langsung melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, perubahan keputusan bisnis perusahaan, hingga perlambatan perekrutan tenaga kerja.

Lantas, seberapa jauh kejatuhan IHSG dapat memengaruhi kehidupan pekerja bergaji 'mungil'? Apakah gejolak pasar berpotensi menggerus daya beli hingga mendorong masyarakat turun kelas ekonomi?

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai kejatuhan IHSG tidak secara langsung mengurangi upah pekerja. Namun, dampaknya dapat merambat melalui pelemahan rupiah, kenaikan biaya pembiayaan, investasi perusahaan, dan kondisi pasar tenaga kerja.

"Meskipun sebagian besar pekerja berpenghasilan rendah tidak memiliki saham, kejatuhan IHSG tetap dapat memengaruhi kehidupan mereka melalui jalur yang tidak langsung," ujar Josua kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/10).

Menurutnya, ketika investor asing menarik dana dari pasar domestik, tekanan dapat menjalar ke nilai tukar rupiah. Jika pelemahan berlangsung lama, biaya impor bahan baku, energi, dan barang kebutuhan sehari-hari berpotensi meningkat.

Perusahaan kemudian menghadapi kenaikan biaya produksi yang dapat mendorong kenaikan harga jual, menekan keuntungan, atau membuat ekspansi usaha tertunda. Dalam kondisi tersebut, perusahaan juga berpotensi menahan perekrutan, mengurangi lembur, dan menunda kenaikan gaji.

Dampaknya lebih berat bagi pekerja berpenghasilan rendah. Sebab, sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Josua menyebut kelompok 20 persen penduduk dengan pengeluaran terendah mengalokasikan 64,6 persen belanjanya untuk makanan.

"Artinya, ketika harga kebutuhan pokok meningkat sementara gaji tidak bertambah, ruang untuk membiayai transportasi, pendidikan, kesehatan, dan menabung menjadi semakin sempit," jelasnya.

Ia memberikan ilustrasi pekerja bergaji Rp3 juta per bulan yang mengalokasikan 60 persen atau sekitar Rp1,8 juta pendapatannya untuk makanan. Jika harga makanan naik 5 persen, sementara jumlah pembelian tetap, maka pengeluaran bertambah Rp90 ribu per bulan.

Tambahan tersebut dapat terasa berarti bagi keluarga yang masih harus membayar kontrakan, transportasi, listrik, dan kebutuhan anak. Namun, Josua menegaskan perhitungan itu hanya ilustrasi, bukan prediksi bahwa kejatuhan IHSG pasti menyebabkan kenaikan harga pangan sebesar 5 persen.

"Dalam kondisi itu, keluarga berpenghasilan rendah terpaksa mengurangi konsumsi, menunda kebutuhan penting, atau menggunakan tabungan untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari," ungkapnya.

Menurutnya, risiko jangka panjang muncul apabila tekanan pasar keuangan membuat perusahaan menunda investasi, pembangunan pabrik, atau pembukaan cabang. Kondisi itu dapat memperlambat penciptaan lapangan kerja dan menahan kenaikan pendapatan masyarakat.

Josua menilai risiko penurunan status ekonomi memang ada, tetapi tidak terjadi otomatis hanya karena IHSG jatuh. Risiko ini membesar ketika pelemahan pendapatan riil, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian pekerjaan berlangsung bersamaan.

Kelompok kelas menengah bawah dan masyarakat yang berada sedikit di atas garis kemiskinan menjadi salah satu kelompok rentan karena belum tentu memiliki tabungan yang cukup untuk menghadapi kehilangan pendapatan selama beberapa bulan.

Keluarga yang sebelumnya mampu membayar cicilan rumah, biaya sekolah, dan kebutuhan sehari-hari dapat terpaksa mengurangi konsumsi, menguras tabungan, menjual aset, atau menambah utang ketika pendapatan menurun.

"Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan perpindahan dari kelompok kelas menengah ke kelompok rentan, bahkan meningkatkan risiko kemiskinan apabila tekanan berlangsung cukup lama," jelasnya.

Meski demikian, perubahan kelas ekonomi harus dibuktikan melalui data pengeluaran riil rumah tangga, bukan disimpulkan langsung dari pergerakan IHSG.

Pekerja Bergaji Imut Harus Apa? BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2