ANALISIS

Pekerja Bergaji Mungil, Simak Ancaman IHSG Rontok ke Isi Dompetmu!

Laurent Nabila ZT | CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 08:11 WIB
Ilustrasi dompet berisi uang rupiah
Pekerja Bergaji Imut Harus Apa? (Foto: iStock/Jaka Suryanta)

Untuk menghadapi ketidakpastian, Josua menyarankan pekerja berpenghasilan rendah memprioritaskan kestabilan keuangan rumah tangga, bukan mengejar keuntungan investasi tinggi di tengah pasar yang bergejolak.

Ia mengimbau masyarakat mengutamakan kebutuhan pokok, mengevaluasi pengeluaran yang dapat ditunda, membangun dana darurat secara bertahap, serta menghindari pinjaman konsumtif berbunga tinggi.

Lalu, tabungan atau deposito yang memenuhi ketentuan penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan jangka pendek.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senada, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai dampak kejatuhan IHSG terhadap pekerja berpenghasilan rendah bergantung pada sejauh mana gejolak pasar menular ke perekonomian riil.

"Hubungan IHSG dengan dompet warga bekerja melalui jalur kepercayaan, biaya pembiayaan, nilai tukar, investasi, dan lapangan kerja," ujar Syafruddin.

Menurutnya, jika tekanan pasar berlangsung lama, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang impor dan bahan baku. Pada saat yang sama, biaya pendanaan perusahaan berpotensi meningkat sehingga dunia usaha lebih berhati-hati dalam melakukan investasi dan merekrut pekerja.

Dalam jangka pendek, pekerja berpenghasilan rendah berpotensi lebih dahulu merasakan kenaikan biaya hidup daripada perubahan gaji. Sementara dalam jangka panjang, penciptaan lapangan kerja dapat melambat, pekerjaan informal bertambah, dan kenaikan upah riil tertahan.

"Dampak akan jauh lebih serius bila tekanan saham diikuti pelemahan rupiah yang persisten, kenaikan yield SBN, kredit yang mengetat, dan konsumsi melemah," katanya.

Syafruddin juga mengingatkan risiko penurunan kelas ekonomi ketika pendapatan riil melemah, harga kebutuhan pokok naik, dan pekerjaan semakin tidak pasti. Terlebih, keluarga kelas menengah bawah rentan karena memiliki bantalan aset yang terbatas, tetapi juga tak memenuhi kriteria dapat bansos.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memantau kondisi rumah tangga, bukan hanya pergerakan indeks saham.

"Ukuran yang relevan bukan hanya IHSG, melainkan kombinasi rupiah, inflasi pangan, bunga kredit, tingkat pengangguran, jam kerja, dan upah riil. Begitu indikator itu memburuk bersama, shock pasar telah masuk ke dapur rumah tangga," jelasnya.

Syafruddin menyarankan pekerja menjaga arus kas, mengutamakan dana darurat, mengurangi utang berbunga tinggi, dan menghindari spekulasi untuk menutup kekurangan pendapatan.

Ia menilai pemerintah dan otoritas keuangan perlu mengambil langkah stabilisasi jangka pendek sekaligus memperbaiki kredibilitas pasar secara struktural untuk memulihkan kepercayaan investor.

Bank Indonesia (BI) perlu menjaga stabilitas rupiah dan likuiditas agar tekanan di pasar saham tidak berkembang menjadi krisis pembiayaan. Bursa Efek Indonesia (BEI) harus memastikan perdagangan berlangsung teratur tanpa menjadikan pembatasan harga sebagai pengganti mekanisme pembentukan harga (price discovery).

Lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik manipulasi pasar, memperjelas kepemilikan manfaat (beneficial ownership), serta mengaudit jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik (effective free float). Tanggung jawab penjamin emisi (underwriter), broker, dan kustodian juga perlu diperkuat.

Menurut Syafruddin, pemulihan kepercayaan pasar perlu dibuktikan melalui perbaikan kondisi yang terukur, mulai dari stabilitas rupiah dan membaiknya likuiditas pasar hingga terkendalinya inflasi kebutuhan pokok.

Dengan demikian, keberhasilan pemulihan tidak cukup hanya diukur dari kenaikan IHSG, tetapi juga dari kemampuan mencegah gejolak pasar berkembang menjadi tekanan berkepanjangan terhadap daya beli dan kesempatan kerja masyarakat.

"Pemulihan kepercayaan harus terlihat dalam data, bukan hanya pernyataan," pungkasnya.

(pta)

HALAMAN:
1 2