Menteri ESDM Bidik Batam-Karimun-Bintan Jadi Hub Pusat Data Baru

Kementerian ESDM | CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 10:32 WIB
(Foto: Arsip Kementerian ESDM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong pengembangan Batam, Karimun, dan Bintan di Kepulauan Riau sebagai hub pusat data baru untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital regional.

Dalam upaya ini, ada kebutuhan tambahan listrik untuk pengembangan pusat data nasional yang diproyeksikan mencapai 20 gigawatt (GW).

Hal itu disampaikan Bahlil dalam acara Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Senin (19/10). Ia menyebut kebutuhan tambahan listrik tersebut setara dengan 20.000 megawatt (MW) atau sekitar 20 persen dari total kapasitas listrik yang ada saat ini.

"Tadi saya baru habis berbincang sama Dirut PLN, itu membutuhkan penambahan 20 GW. 20 GW ini sama dengan 20.000 MW. Itu sama dengan 20 persen dari total listrik yang existing sekarang. Ini enggak sedikit, cukup besar sekali," ujar Bahlil.

Angka 20 GW tersebut merupakan proyeksi kebutuhan tambahan, bukan jumlah konsumsi listrik dari pusat data yang beroperasi saat ini. Pertumbuhan pesat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi pendorong utama lonjakan kebutuhan infrastruktur tersebut.

Selain listrik, pusat data juga memerlukan kepastian pasokan air, kestabilan jaringan serat optik, serta lokasi yang siap dikembangkan.

Bahlil menilai Batam, Karimun, dan Bintan memiliki ketersediaan air yang memadai, kepadatan penduduk lebih rendah dibandingkan Jawa dan Bali, serta potensi pengembangan energi terbarukan.

Kehadiran hub pusat data baru di kawasan tersebut bertujuank melengkapi ekosistem digital regional di Singapura dan Malaysia.

Di Batam, realisasi investasi mulai berjalan. PLN Batam dan PT Digitalland Service One (DayOne) telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) pada April 2026 dengan kapasitas kontrak 511 megavolt ampere (MVA) atau setara 450 MW.

Pada saat bersamaan, BP Batam dan PLN Batam juga menyepakati nota kesepahaman pembangunan PLTS terapung berkapasitas 200 megawatt-peak (MWp).

Bahlil optimistis penyediaan energi bersih dapat menjadi magnet untuk menarik investor. Pemerintah merencanakan pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt-peak (GWp), sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 GW.

"Saya punya keyakinan, teman-teman investor akan lebih suka untuk memakai data center mereka dengan memakai energi baru terbarukan. Dan ini sebuah peluang bisnis," katanya.

Untuk memastikan pasokan energi tepat sasaran, pemerintah akan meminta peta rencana lokasi dari calon investor. Aturan khusus juga disiapkan guna mendorong keterlibatan pengusaha nasional dan daerah dalam proyek-proyek tersebut.

"Kita harus sharing dengan pengusaha lokal. Jangan juga semuanya dikerjain oleh mereka sendiri," pungkas Bahlil.

Melalui penataan lokasi, kesiapan energi terbarukan, dan kemitraan lokal, pemerintah ingin memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi digital di tingkat regional.

(rea/rir)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VIDEO: Pusat Data AI Picu Protes Warga India

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK