OJK Buka Suara soal Eks Mendag Era SBY Tuding Singapura

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 19:39 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkap pihaknya menemui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk membahas insentif perdagangan Exchange Traded Fund (ETF) emas non delivery.
OJK menanggapi tudingan Eks Mendag Lutfi soal Singapura dan MSCI. Ketua OJK menegaskan fokus pada kerja dan reformasi pasar modal, bukan spekulasi. (FOTO:CNN Indonesia/ Muhammad Falah).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara soal Eks Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi yang menuding perusahaan Singapura memanfaatkan lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menekan pasar saham Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan pihak regulator memilih fokus bekerja dibandingkan memusingkan spekulasi publik.

"Kita kerja saja. Silakan orang lain mengomentari, silakan orang berpikir sendiri, tapi kita kerja saja," ujar Friderica saat ditemui usai acara Ijtima' Sanawi di Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Friderica mengungkapkan OJK telah bekerja semaksimal mungkin dalam mengeksekusi reformasi pasar modal. Ia menekankan bahwa langkah penegakan hukum dan pembenahan regulasi sudah dilakukan secara masif sejak Januari lalu, bahkan sebelum isu sentimen MSCI mengemuka.

"Jadi kalau dibilang kita enggak ngapa-ngapain tuh, itu salah banget lah. Bahkan kalau kita tuh udah all out banget dengan segala hal yang kita lakukan," tegas Bos OJK.

Sebelumnya, Eks Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menuding Singapura memanfaatkan lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menekan pasar saham Indonesia.

[Gambas:Youtube]

Lutfi menjabat sebagai mendag di dua era kepresidenan. Pertama, era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ia menjabat pada 14 Februari - 20 Oktober 2014. Kedua, di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan periode menjabat 23 Desember 2020 hingga 15 Juni 2022.

Dalam unggahannya, ia menduga langkah Singapura bertujuan menjatuhkan harga saham di pasar modal Indonesia dan memungkinkan investor asing memborong saham RI di harga murah.

Menurutnya, tekanan itu dilakukan melalui ancaman penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

"Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia?" kata Lutfi dalam unggahan reels di akun Instagram resminya @m.lutfi, Senin (19/10).

Lutfi bahkan mengaku mendapat informasi bahwa seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh ikut menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia.

"Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujarnya.

Kendati demikian, Lutfi tidak menyertakan bukti yang mendukung tuduhan tersebut. Klaim mengenai keterlibatan Singapura, Temasek, GIC, maupun sosok yang disebutnya itu belum terverifikasi secara independen.

Lutfi menduga tekanan terhadap pasar modal Indonesia berkaitan dengan kepentingan investor asing yang ingin kembali membeli saham dengan harga lebih rendah.

Ia mengklaim dana institusi asing telah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Namun, keluarnya dana tersebut disebut tidak membuat harga saham jatuh sesuai harapan investor asing.

"Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah," katanya.

(fln/ins)