IHSG Loyo Gegara MSCI, Apakah Sekarang Momentum Tepat Investasi Saham?

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 08:19 WIB
Pelemahan IHSG akibat sentimen risiko perubahan klasifikasi pasar RI oleh MSCI bisa menjadi peluang untuk akumulasi saham dengan memperhatikan sejumlah hal. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat sentimen risiko perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) bisa menjadi peluang untuk investasi saham dengan memperhatikan sejumlah hal.

Dalam hal ini, investor perlu melihat konfirmasi teknikal, fundamental emiten, serta perkembangan sentimen pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai koreksi pasar memang membuka peluang akumulasi. Namun, investor belum disarankan membeli saham secara agresif karena penguatan IHSG masih perlu diuji keberlanjutannya.

"Penguatan IHSG masih perlu diuji keberlanjutannya dan berpotensi hanya menjadi technical rebound atau dead cat bounce, bukan trend reversal," kata Elandry kepada CNNIndonesia.com pada Rabu (21/10).

Technical rebound merupakan penguatan harga setelah mengalami penurunan, sedangkan dead cat bounce mengacu pada pemulihan sementara sebelum harga kembali melemah. Adapun trend reversal menunjukkan perubahan arah tren yang lebih berkelanjutan.

Elandry menyarankan investor masuk secara bertahap dengan strategi buy on weakness, yakni membeli saham ketika harga terkoreksi, sembari memperhatikan valuasi, likuiditas, dan risiko penurunan lanjutan.

Menurut Elandry, investor sebaiknya mencermati emiten dengan fundamental kuat, arus kas yang sehat, utang terkendali, profitabilitas konsisten, dan likuiditas memadai.

Saham berkapitalisasi besar serta sektor defensif dapat menjadi pertimbangan, tetapi tetap perlu memperhitungkan valuasi dan potensi tekanan jual asing.

Ia juga mengingatkan investor agar tidak hanya menjadikan penurunan harga sebagai alasan membeli saham.

Investor perlu memperhatikan apakah tekanan jual mulai mereda, volume transaksi stabil, dan harga mampu bertahan di area support. Penguatan selama satu atau dua sesi perdagangan belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren.

"Investor tetap perlu tenang dan jangan panik atau FOMO melihat pergerakan IHSG. Jika ingin masuk pasar, pastikan punya trading plan yang jelas, mulai dari area beli, target profit, hingga batas cut loss," ujarnya.

Senada, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji menilai koreksi pasar dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham berfundamental kuat secara bertahap dengan orientasi investasi jangka panjang.

Nafan melihat IHSG masih berada dalam fase downtrend jangka pendek hingga menengah akibat arus keluar modal (capital outflow).

Meski demikian, indeks mulai mendekati area support psikologis yang krusial. Pasalnya, Indikator Relative Strength Index (RSI) dan stochastic berada di area oversold atau membuka peluang terjadinya technical rebound.

Karenanya, Nafan menyarankan investor menggunakan strategi masuk bertahap atau dollar-cost averaging pada saham berfundamental kuat.

Untuk mengidentifikasi peluang masuk yang lebih aman, investor dapat memperhatikan berbagai aspek konfirmasi pembalikan arah, seperti bullish divergence pada RSI atau Moving Average Convergence Divergence (MACD), sinyal golden cross pada Stochastic, serta pola candlestick reversal yang didukung peningkatan volume transaksi.

Penembusan ke atas level resistance terdekat juga dapat menjadi sinyal awal stabilisasi IHSG.

Nafan mencermati saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, serta sektor telekomunikasi dan barang konsumsi yang mengandalkan pasar domestik dan membagikan dividen secara konsisten.

Ia juga menambahkan meredanya tekanan jual asing, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan langkah konkret otoritas pasar modal dalam merespons evaluasi MSCI menjadi faktor yang juga perlu di pantau oleh investor

Selanjutnya, Nafan mengingatkan investor agar tetap rasional, menjaga porsi kas yang memadai, dan menerapkan manajemen risiko. 

Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menilai IHSG mulai menunjukkan kekuatan untuk pulih setelah tekanan jual yang terjadi sebelumnya.

"IHSG mulai terlihat adanya kekuatan untuk rebound, di mana hari ini kali pertama rebound terjadi cukup signifikan pasca kejatuhan Jumat lalu," kata Ivan.

Dari sisi teknikal, Ivan juga menilai IHSG telah memasuki fase akhir Wave 5 yang merupakan gelombang penurunan terakhir dalam suatu tren yang turun impulsif.

Ivan melihat peluang akumulasi saham mulai terbuka, ia juga menyebut area IHSG di kisaran 4.800 sebagai level yang menarik untuk kembali melakukan akumulasi apabila indeks kembali melemah lagi.

Ia juga secara khusus mencermati saham-saham perbankan yang akan menggelar pertemuan analisis terkait laporan kinerja Q3.

Menurut Ivan, investor dapat mulai melakukan akumulasi saham atau mengatur strategi dengan memanfaatkan dana tunai yang tersedia. Namun, saat melakukan pembelian saham sebaiknya tidak dilakukan secara bersamaan.

"Akumulasi saya pikir tidak ada masalah, dan akumulasi ini setidaknya dilakukan dalam 4 hinggga 5 kali tahapan minimalnya," ujarnya.

Tekanan yang terjadi saat ini juga berpotensi menjadi bagian akhir dari siklus penurunan pasar. Ia masih optimistis terhadap peluang pemulihan IHSG, meskipun resiko pelemahan lanjutan tetap ada.

"Mengingat proposal konsultasi yang diajukan MSCI terkesan mendadak dan berlebihan di tengah upaya pembenahan dari otoritas bursa, maka saya masih cukup optimis ini adalah akhir dari bearish cycle mengacu pada Elliott Wave Theory yang saya sebutkan tadi," kata Ivan.

Lebih lanjut, Ivan mengingatkan investor agar tidak panik menghadapi volatilitas pasar dan memanfaatkan dana tunai untuk melakukan akumulasi secara bertahap.

(lil/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK