DEN Prediksi Ekspor Hilirisasi RI Tembus Rp899 T Tahun Ini

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 15:27 WIB
Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto di Kemenko Marves, Jakarta Pusat, Senin (26/6)
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memprediksi nilai ekspor hilirisasi RI mencapai US$50 miliar pada 2026, didorong nikel, aluminium, dan komponen baterai litium. (FOTO:CNN Indonesia/Sakti Darma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memprediksi nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai US$50 miliar atau sekitar Rp899,70 triliun (asumsi kurs Rp17.994 per dolar AS) pada 2026.

Proyeksi tersebut mencakup produk hilirisasi nikel, aluminium, serta komponen baterai litium, dengan nilai ekspor diperkirakan meningkat hampir 45 persen dibandingkan 2024.

Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan perkembangan hilirisasi Indonesia kini tak hanya bertumpu pada nikel. Industri pengolahan aluminium dan komponen baterai litium juga berkembang dan diperkirakan menambah kontribusi ekspor nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium, dan komponen-komponen litium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar US$50 miliar atau naik hampir sekitar 45 persen dibandingkan ekspor kita pada tahun 2024," kata Seto dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).

Seto menyebut nilai ekspor produk hilirisasi pada 2024 mencapai sekitar US$34,5 miliar atau setara Rp620,79 triliun. Dengan proyeksi tersebut, ekspor hilirisasi diperkirakan bertambah sekitar US$15,5 miliar atau Rp278,86 triliun pada 2026.

Menurutnya, peningkatan itu berpotensi menjadi sumber tambahan devisa bagi Indonesia.

Salah satu pendorongnya adalah hilirisasi aluminium. DEN memperkirakan nilai ekspor produk aluminium mencapai US$7,2 miliar atau Rp129,53 triliun pada 2026, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sekitar US$3,5 miliar atau Rp62,97 triliun pada 2024.

[Gambas:Youtube]

Seto juga memperkirakan ekspor aluminium dapat melampaui US$10 miliar atau Rp179,91 triliun seiring penambahan investasi smelter baru di Indonesia.

Selain aluminium, Indonesia mulai memproduksi komponen baterai litium, termasuk anoda dan katoda. Seto mengatakan Indonesia bahkan telah memiliki fasilitas pemurnian litium (lithium refinery), meskipun Indonesia tidak memiliki sumber daya litium sendiri.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang tidak kita miliki di Indonesia. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap," jelasnha.

Seto menyampaikan kajian mengenai hilirisasi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, perkembangan industri pengolahan nikel, aluminium, dan komponen baterai menjadi bagian dari peningkatan ekspor produk bernilai tambah dalam dua tahun pemerintahan Prabowo.

(del/ins)