Forum PAUD Asia-Pasifik 2026 di Jakarta Serukan Aksi Kolektif

Tanoto Foundation | CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 10:26 WIB
Kiri ke kanan: Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry; Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Adriany; Executive Director ARNEC, Evelyn Santiago, ARNEC; Koordinator Koalisi Nasional PAUD-HI, Irma Yuliantina; Head of ECED Tanoto Foundation, Michael Susanto. (Foto: Arsip Tanoto Foundation)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ajang 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development sebagai wadah yang memperkuat sistem pengembangan anak usia dini melalui pertukaran pengalaman, pembelajaran bersama, dan perumusan langkah-langkah konkret resmi digelar di Jakarta pada 20-22 Oktober.

Mengusung tema "From Knowledge to Collective Action: Strengthening Climate-Responsive and Well-Financed ECD Systems in Asia-Pacific", kegiatan ini memiliki dua prioritas utama, yaitu penguatan sistem pengembangan anak usia dini yang responsif terhadap perubahan iklim, serta mobilisasi pendanaan yang memadai, adil, dan berkelanjutan.

Kedua prioritas ini menjadi landasan penting untuk memastikan setiap anak memperoleh akses terhadap layanan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

Selama tiga hari, forum ini membahas berbagai aspek penguatan sistem pengembangan anak usia dini. Hari pertama berfokus pada pengembangan PAUD yang responsif terhadap iklim dan upaya melindungi anak dari risiko terkait iklim, termasuk melalui layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Hari kedua membahas pendanaan berkelanjutan, khususnya strategi untuk mempertahankan dan memperkuat investasi pada anak usia dini, serta pertukaran pengalaman antara perwakilan pemerintah dalam memobilisasi dan memanfaatkan sumber daya secara efektif.

Sementara, hari terakhir mengangkat isu masa depan pendidikan anak usia dini melalui diskusi tentang kecerdasan buatan dan teknologi digital, serta pentingnya memberikan ruang bagi suara dan perspektif anak.

Sekitar 150 perwakilan pemerintah, pakar pengembangan anak usia dini, peneliti, praktisi, mitra pembangunan, dan organisasi filantropi dari 16 negara menghadiri forum ini, termasuk dari Indonesia, Banglaadesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.

Forum ini juga beragendakan kampanye Act for Early Years, yakni gerakan global yang menyerukan akses terhadap layanan pengembangan anak usia dini, pengasuhan, dan pendidikan prasekolah yang berkualitas bagi semua anak perempuan dan laki-laki.

Melalui kampanye ini, forum turut mendorong para peserta untuk menandatangani 'Minifesto', seruan untuk meningkatkan perhatian dan investasi dalam pengembangan anak usia dini. Dukungan dari pejabat pemerintah dan peserta forum akan dikonfirmasi setelah sesi terkait berlangsung.

Peran Tanoto Foundation Perkuat Sistem PAUD Asia-Pasifik

Tanoto Foundation ikut ambil peran dalam penyelenggaraan 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development, berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), serta Koalisi Nasional PAUD-HI.

Head of Policy & Advocacy, Tanoto Foundation, Eddy Henry mengatakan bahwa investasi pada anak usia dini memerlukan kolaborasi yang berkelanjutan.

"Filantropi dapat melengkapi upaya pemerintah dengan mendukung penyediaan bukti, inovasi, dan kapasitas kelembagaan yang diperlukan untuk menerjemahkan pendekatan yang terbukti efektif menjadi perbaikan yang berkelanjutan. Kami menyambut baik kesempatan untuk belajar bersama pemerintah dan para mitra di Asia Pasifik dalam forum ini," ujar Eddy Henry.

Gelaran ini sejalan dengan pernyataan Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, yang bahwa menyampaikan Kemendikdasmen sedang berupaya membangun koalisi yang kuat untuk anak-anak Indonesia.

Salah satunya, lewat penerapan wajib belajar satu tahun pendidikan anak usia dini (PAUD), yang selaras dengan prioritas nasional Wajib Belajar 13 Tahun.

"Program prioritas kementerian juga mencakup revitalisasi sekolah dan satuan PAUD untuk memastikan tersedianya lingkungan belajar yang aman dan memadai, serta perluasan Program Indonesia Pintar (PIP) agar dapat menjangkau anak-anak di tingkat prasekolah," sambung Suharti saat memberikan sambutan.

Sementara, Widyaprada Ahli Utama Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD, Kemendikdasmen, Harris Iskandar menyoroti pentingnya pendanaan yang berkelanjutan dan tanggung jawab bersama.

"Memastikan akses yang merata terhadap pendidikan anak usia dini yang berkualitas membutuhkan pendanaan berkelanjutan dan tanggung jawab bersama. Pendanaan untuk anak usia dini seharusnya dilihat bukan sebagai sebuah pengeluaran tapi sebagai sebuah investasi bagi suatu negara"," ujar Harris.

Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Adriany pada forum ini juga memaparkan sejumlah prioritas untuk memperkuat sistem pengasuhan dan PAUD di Asia Tenggara.

Prioritas tersebut mencerminkan kontribusi SEAMEO CECCEP dalam mendorong implementasi 'ASEAN-SEAMEO Joint Roadmap on ECCE' melalui penelitian dan pengembangan, penguatan kapasitas, serta kemitraan regional.

Vina menyebut, penguatan sistem pengasuhan dan pendidikan anak usia dini tidak hanya membutuhkan peningkatan kualitas layanan, tetapi juga penyelesaian tantangan struktural yang mempengaruhi keberlanjutan dan pemerataan akses.

Pendanaan perlu didukung oleh kerangka hukum yang kuat, menjangkau anak-anak dan masyarakat secara merata, serta berkelanjutan tanpa bergantung pada dukungan donor jangka pendek.

"Pada saat yang sama, isu perubahan iklim perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan anak usia dini melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga mereka dapat memahami tantangan lingkungan dan upaya pencegahannya," paparnya.

Menyoroti keterkaitan kedua isu itu, Koordinator Koalisi Nasional PAUD-HI, Irma Yuliantina, mengatakan bahwa seiring peningkatan risiko terkait iklim, sistem PAUD yang didanai secara memadai dan tangguh menjadi semakin penting untuk memastikan layanan esensial bagi anak usia dini tetap berjalan sebelum, selama, dan setelah krisis.

"Oleh karena itu, penguatan investasi di bidang PAUD sangat penting bukan hanya bagi perkembangan dan kesejahteraan anak, tetapi juga untuk membangun sistem yang mampu melindungi anak usia dini dengan lebih baik di tengah perubahan iklim," ungkap Irma Yuliantina.

Dalam forum ini, ARNEC juga meluncurkan strategi baru untuk periode 2026-2030 yang disusun dengan konsultasi bersama mitra di tingkat global, regional, dan nasional.

Strategi ini akan menjadi panduan bagi ARNEC dalam bekerja sama dengan komunitas pengembangan anak usia dini di kawasan Asia-Pasifik.

"Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik berada pada titik krusial dan tidak bisa terus mengandalkan pendekatan yang sama seperti sebelumnya. Melalui pembelajaran bersama, dialog, dan kemitraan, ARNEC bersama para mitranya ingin mendorong aksi nyata yang terkoordinasi agar semakin banyak anak usia dini di kawasan ini dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," kata Executive Director ARNEC, Evelyn Santiago.

Evelyn menegaskan, bahwa Kawasan Asia-Pasifik sangat rentan terhadap perubahan iklim. Sejak 2019, ARNEC telah menyuarakan kesadaran tentang dampak perubahan iklim terhadap anak usia dini, dan Regional Learning Forum ini merupakan bagian dari advokasi jangka panjang tersebut.

"Dengan mempertemukan pemerintah nasional, peneliti, mitra pembangunan, lembaga filantropi, guru, dan praktisi pengembangan anak usia dini, kami berharap dapat mengubah pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki menjadi aksi kolektif yang lebih kuat untuk membangun sistem pengembangan anak usia dini yang tangguh, responsif terhadap iklim, dan didukung dengan pendanaan berkelanjutan," tutup Evelyn.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK