Serangan Kapal dan Ancaman Houthi Dorong Harga Minyak Dunia Naik

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 11:05 WIB
The Rig, taman hiburan di kilang minyak Arab Saudi
Kekhawatiran pasar muncul seiring dengan meningkatnya risiko pelayaran di Timur Tengah, serta ancaman Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. (Foto: Tangkapan layar twitter @@PIF_en)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia melonjak ke US$109 per barel pada perdagangan Rabu (21/10) didorong oleh kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah.

Kekhawatiran pasar muncul seiring dengan meningkatnya risiko pelayaran di Timur Tengah, serta ancaman serangan Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 85 sen atau 0,78 persen menjadi US$109,64 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 76 sen atau 0,78 persen menjadi US$98,58 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga minyak tersebut terjadi setelah sebuah kapal super tanker terbakar akibat menabrak ranjau laut di selatan Selat Hormuz.

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan kapal tersebut melanggar aturan, menurut laporan media Iran pada Selasa (20/10).

Perusahaan pelacak kapal Kpler juga telah melaporkan sedikitnya 18 serangan terhadap kapal dalam dua pekan terakhir.

Analis LSEG juga mengatakan serangan terhadap kapal tanker telah meluas hingga ke luar Selat Hormuz. Iran disebut menargetkan kapal hingga ke selatan Teluk Oman, sehingga mengancam aktivitas pemuatan minyak di luar kawasan Teluk Arab serta transfer minyak antarkapal.

Senin lalu (19/10), Houthi juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara Riyadh dan Abha di Arab Saudi.

Kemudian kemarin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pihaknya belum menerima tanggapan dari Arab Saudi maupun kelompok Houthi Yaman terkait tawaran Teheran untuk membantu memediasi perundingan perdamaian.

Di Amerika Serikat, dua pejabat Departemen Energi mengatakan pemerintah tengah bekerja sama dengan kilang minyak di berbagai negara untuk meningkatkan produksi bahan bakar. Upaya tersebut dilakukan di tengah kekurangan pasokan diesel yang mendorong kenaikan harga.

Persediaan minyak mentah AS juga diperkirakan turun pada pekan lalu, bersamaan dengan persediaan produk minyak.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap delapan analis, stok minyak mentah AS diperkirakan berkurang rata-rata sekitar 800 ribu barel pada pekan yang berakhir 16 Oktober.

[Gambas:Video CNN]

(lil/pta)