Daftar Perusahaan yang Siap Buyback Saham, Big Banks hingga Energi

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 12:47 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot 5 persen tak lama perdagangan saham dibuka, Senin (2/2). Melansir RTI Infokom, IHSG melanjutkan penurunan hingga 5,08 persen ke level 7.906 pada pukul 09.18 WIB. Sebanyak 596 saham berada di zona merah, 53 s
Sejumlah emiten mulai dari perbankan raksasa hingga perusahaan energi tengah menyiapkan aksi buyback di tengah gejolak pasar modal Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar atau menyiapkan aksi pembelian kembali saham (buyback) di tengah gejolak pasar modal Indonesia.

Emiten yang masuk dalam daftar tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, telekomunikasi, energi, hingga petrokimia, dengan nilai buyback mencapai triliunan rupiah.

Buyback merupakan aksi korporasi ketika perusahaan membeli kembali sahamnya yang beredar di pasar. Langkah ini dapat digunakan untuk mendukung stabilitas harga saham, meningkatkan nilai bagi pemegang saham, atau mengelola struktur modal perusahaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, dampaknya terhadap harga saham tak selalu sama karena tetap dipengaruhi kondisi pasar dan kinerja masing-masing emiten.

Sejumlah perusahaan telah menetapkan anggaran dan periode pelaksanaan buyback, sedangkan lainnya masih mengkaji kemungkinan melakukan aksi serupa.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), misalnya, menyiapkan percepatan pelaksanaan buyback dengan sisa anggaran lebih dari Rp3 triliun per 19 Oktober 2026. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) masih mengkaji opsi pembelian kembali saham.

Berikut daftar emiten yang mengumumkan atau mengkaji buyback saham berdasarkan informasi yang disampaikan perusahaan:

1. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Telkom menyiapkan percepatan pelaksanaan buyback saham dengan nilai maksimal Rp4 triliun. Program tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026 dan berlaku hingga 8 Juni 2027.

Per 19 Oktober 2026, sisa alokasi buyback yang telah disetujui masih lebih dari Rp3 triliun. Pembelian menggunakan kas internal dengan mempertimbangkan kondisi pasar, posisi kas, kebutuhan operasional, dan investasi perusahaan.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan buyback menjadi bagian dari strategi alokasi modal perusahaan untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

BCA kembali melaksanakan program buyback pada 19-23 Oktober 2026. Periode pelaksanaan tersebut diperpanjang dari jadwal sebelumnya yang berakhir pada 21 Oktober 2026.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari program buyback yang telah direalisasikan pada April dan Juni 2026. Berdasarkan persetujuan RUPST pada 12 Maret 2026, program buyback BCA memiliki periode hingga 11 Maret 2027, kecuali diakhiri lebih cepat sesuai ketentuan.

Perseroan menyatakan pelaksanaan buyback tidak berdampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha.

3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)

BNI melanjutkan program buyback yang sebelumnya diumumkan melalui keterbukaan informasi pada Juli 2026. Periode pelaksanaan program tersebut dijadwalkan hingga 26 Oktober 2026.

Perseroan juga mencermati kemungkinan memperpanjang periode buyback dengan tetap memperhatikan ruang pembelian kembali saham yang telah disetujui dalam RUPS.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kecukupan modal, serta prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan.

Hingga Agustus 2026, BNI mencatat total aset Rp1.434,1 triliun, kredit Rp977,2 triliun, dan dana pihak ketiga Rp1.124,7 triliun. Perseroan membukukan laba bersih Rp14,33 triliun pada periode tersebut.

4. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)

Berbeda dari emiten yang telah menetapkan periode atau anggaran buyback, BTN masih mengkaji kemungkinan pembelian kembali saham. Direktur Utama BTN Nixon L P Napitupulu mengatakan kajian mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan strategis perusahaan, kecukupan modal, serta kebutuhan pendanaan untuk ekspansi bisnis.

BTN sebelumnya pernah menyiapkan dana Rp275 miliar untuk buyback pada 2020, ketika pasar modal mengalami tekanan akibat pandemi Covid-19. Namun, untuk rencana terbaru, perseroan belum mengumumkan anggaran maupun periode pelaksanaan.

Nixon mengatakan keputusan akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keuangan dan kepentingan seluruh pemegang saham. Perseroan juga tetap berfokus pada pengembangan bisnis pembiayaan perumahan dan transformasi menuju beyond mortgage.

Perusahaan Energi hingga Petrokimia BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2