Airlangga Tegaskan Sentimen MSCI Tak Ganggu Investasi KEK
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan risiko penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak berdampak pada realisasi investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Airlangga menjelaskan MSCI hanya berfokus pada indikator pasar modal dan tata kelola korporasi terdaftar sehingga tidak berpengaruh terhadap arus investasi riil di KEK.
"MSCI tidak terkait dengan KEK karena itu hanya untuk terkait dengan governance di capital market. Dan KEK (realisasi investasi) 67 persen sampai Q3, harapannya bisa mencapai 100 persen di Q4 karena semua kan sedang dalam proses pembangunan," ujar Airlangga usai Rapat Koordinasi Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kuartal III 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (21/10).
Ia menyebut hingga saat ini, realisasi investasi di 25 KEK secara akumulatif telah menembus Rp382,1 triliun dan menyerap hingga 302 ribu tenaga kerja.
"Dari 25 KEK, investasi yang telah dicapai secara akumulatif sebesar Rp382,1 triliun dan menyerap lapangan kerja 302.000," ungkapnya.
Pencapaian KEK ini sejalan dengan kinerja investasi nasional yang terus tumbuh solid. Secara kumulatif, realisasi investasi Indonesia sepanjang periode Januari hingga September 2026 telah mencapai Rp1.539,2 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2,1 juta orang.
Oleh karena itu, pemerintah membidik kontribusi besar dari sektor pariwisata di KEK. Airlangga menyebut KEK Pariwisata diproyeksikan mampu mendulang devisa hingga puluhan miliar dolar AS.
"Pariwisata juga menjadi andalan karena dari pariwisata, pendapatan dan devisanya sekitar US$25 miliar. Itu hampir setara dengan top 3 ekspor kita yaitu nikel, batu bara, dan kelapa sawit," jelas Airlangga.
Adapun pemerintah mengandalkan enam KEK Pariwisata unggulan, antara lain Mandalika, Kura-Kura Bali, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Lesung. Target kunjungan wisatawan mancanegara juga ditargetkan di kisaran 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan.
"Di sektor pariwisata, ini mendukung target 2026 di mana targetnya 16 sampai 17,6 juta wisman, dengan target devisa sekitar 24 billion. Kalau 24 billion ini setara dengan ekspor kelapa sawit," ujarnya.
MSCI mengusulkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Namun, MSCI masih membuka konsultasi publik hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan akhir mengenai klasifikasi pasar modal Indonesia dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
(fln/sfr)