BI Sebut Rupiah Loyo Gegara Ketegangan Geopolitik-Sentimen Pasar Modal

CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 07:25 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Rabu, 5 September 2018.
Gubernur BI Destry Damayanti mengungkap pelemahan rupiah akhir-akhir ini dipicu oleh beberapa faktor seperti ketegangan geopolitik dan sentimen di pasar saham. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 berada di level Rp17.985 per dolar AS setelah melemah 0,61 persen secara point to point jika dibandingkan pada akhir September 2026.

Gubernur BI Destry Damayanti mengungkap pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh beberapa faktor seperti ketegangan geopolitik dan sentimen di pasar saham.

"Perkembangannya dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham," ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan (RDGB) Bank Indonesia Oktober 2026 di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (21/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan bank sentral berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter.

Bank sentral juga memperkuat kebijakan insentif guna meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) beli lindung nilai konvensional kepada BI, tetapi juga untuk transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction) dengan negara mitra agar imbal hasil aset rupiah tetap menarik bagi investor.

Sejak diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan insentif biaya lindung nilai (hedging cost) ini diklaim telah membuahkan hasil positif. Hingga 20 Oktober 2026, kebijakan ini sukses menarik aliran masuk modal asing hingga mencapai US$9,9 miliar.

Ke depannya, Destry memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah akan kembali stabil di tengah dinamika global.

"Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak stabil, didukung komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik," ujar Destry.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)