IA-ITB Dorong Penguatan Investasi dan SDM untuk Pacu Pembangunan Papua

PTFI | CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 21:33 WIB
Freeport
Seminar Nasional 'Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua' yang IA-ITB Papua dan Papua Barat di Jakarta, Rabu (21/10). (Foto: Arsip Freeport)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Papua dan Papua Barat mendorong penguatan investasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal, dan kolaborasi multipihak. Upaya itu ditujukan untuk mengoptimalkan potensi mineral dan minyak dan gas bumi (migas) sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Dorongan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Nasional bertema 'Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua' yang diselenggarakan IA-ITB Papua dan Papua Barat di Jakarta, Rabu (21/10).

Forum ini mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, akademisi, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lain untuk membahas pengelolaan sumber daya alam yang memberi manfaat ekonomi dan sosial lebih luas bagi masyarakat Papua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua IA-ITB Papua dan Papua Barat, Hengky Rumbino, mengatakan Papua memiliki potensi mineral dan migas yang besar. Namun, pemanfaatannya membutuhkan perencanaan jangka panjang, dukungan kebijakan, serta sinergi pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.

"Potensi mineral dan migas Papua harus menjadi penggerak pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, kita perlu memastikan keberlanjutan investasi berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas SDM lokal, penguatan ekonomi daerah, dan pemerataan manfaat pembangunan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10).

Menurut dia, keberlanjutan investasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Papua. Pengalaman investasi berskala besar, seperti pertambangan PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua Tengah dan proyek gas Tangguh di Papua Barat, menunjukkan peran industri mineral dan migas dalam menggerakkan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan mengembangkan sektor pendukung.

Di sisi lain, pengembangan investasi baru masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, ketersediaan energi, dan kebutuhan peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal. Penguatan eksplorasi, kepastian berusaha, dan kebijakan yang mendukung investasi berkelanjutan dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam Papua.

Direktur dan Executive Vice President Sustainable Development PTFI, Claus Wamafma, menyampaikan hal serupa dalam sambutannya. Ia menyebut mineral dan migas Papua sebagai sumber daya strategis yang dapat mendukung pembangunan daerah sekaligus berkontribusi bagi perekonomian nasional.

"Pengelolaan sumber daya alam tidak hanya berbicara tentang besarnya potensi mineral atau nilai investasi, tetapi juga bagaimana kehadiran industri mampu menciptakan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat," kata dia.

Menurut Claus, pengelolaan itu perlu mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, tata kelola, dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Di PTFI, kegiatan pertambangan menggerakkan sektor ekonomi melalui lapangan kerja, belanja lokal, kemitraan dengan UMKM, penguatan rantai pasok, serta kontribusi fiskal bagi daerah dan negara.

Ia menjelaskan pertambangan PTFI juga mendorong peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pengembangan industri hilir di dalam negeri. Langkah itu menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai industri nasional dan memperluas manfaat ekonomi dari pengelolaan sumber daya mineral.

Claus menambahkan, sumber daya mineral yang terukur menjadi landasan penting bagi perencanaan operasi dan investasi jangka panjang. Kepastian investasi diperlukan agar kegiatan industri berkelanjutan dan kontribusi ekonomi, sosial, serta lingkungan dapat terus diberikan secara bertanggung jawab.

"Kepastian investasi jangka panjang perlu berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat adat, dan generasi muda memiliki peran penting untuk memastikan potensi yang dimiliki Papua dapat memberikan manfaat yang semakin luas," kata Claus.

Di samping investasi, seminar menyoroti pentingnya peningkatan partisipasi masyarakat Papua dalam industri mineral dan migas. Pendidikan, pelatihan, dan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri dinilai perlu dikembangkan agar tenaga kerja dan pelaku usaha lokal terlibat dalam eksplorasi, produksi, pengolahan, hingga hilirisasi.

Di sektor migas, penguatan eksplorasi dan produksi, dukungan infrastruktur, serta keterlibatan badan usaha milik daerah melalui skema participating interest turut menjadi perhatian. IA-ITB Papua dan Papua Barat juga mendorong pembahasan peningkatan manfaat keuangan bagi daerah penghasil untuk mendukung infrastruktur, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat.

IA-ITB Papua dan Papua Barat berharap dialog pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat melalui seminar ini menghasilkan rekomendasi yang aplikatif. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi acuan pengelolaan potensi mineral dan migas di Tanah Papua.

"Keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari besarnya investasi atau produksi sumber daya alam, tetapi juga dari semakin banyaknya masyarakat Papua yang memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi," tutup Hengky.

Ia berharap gagasan dari seminar dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat pembangunan Papua yang inklusif dan berkelanjutan.

Sebagai informasi, Ketua Panitia Seminar Nasional IA-ITB Papua dan Papua Barat, Paul Antoh, mengatakan seminar digelar di Jakarta untuk memperkuat koordinasi dan sinergi pemerintah pusat dan daerah. Sinergi itu ditujukan bagi percepatan pembangunan di Tanah Papua yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

(rir)