Eks Wamenlu Era SBY Buka Suara soal Aksi Saling Balas MSCI-Karhutla

CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 09:17 WIB
Eks Wamenlu Dino Patti Djalal memenuhi undangan Presiden RI Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2).
Wamenlu era SBY Dino Patti Djalal menanggapi isu pasar modal RI dan Singapura, menegaskan pentingnya kerjasama dan goodwill antar kedua negara hadapi tantangan. (FOTO:CNN Indonesia/Muhammad Naufal).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Luar Negeri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dino Patti Djalal buka suara terkait aksi saling balas Indonesia dengan Singapura mengenai peringatan penurunan status pasar modal RI oleh MSCI, hingga dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dino menyampaikan pandangan yang beredar bahwa Singapura tengah berkonspirasi untuk menjatuhkan pasar modal RI, mensabotase dan melalui MSCI mencoba merebut aset-aset Indonesia lewat aksi jual murah saham sebagai hal yang tidak masuk akal. 

Pandangan mantan Wamenlu dan juru bicara (Jubir) SBY tersebut dibagikan melalui unggahan Instagram dengan akun @dinopattidjalal, Kamis (22/10). Dalam unggahan berdurasi hampir 3 menit tersebut, Dino turut berbicara sebagai Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu adalah pandangan tidak masuk akal dan jauh dari realita yang sebenarnya. Mengapa? karena Singapura merupakan negara tetangga yang memiliki goodwill, trust dan track record kerjasama yang sudah lama teruji oleh Indonesia," ungkap Dino. 

Dino juga menekankan bahwa sejarah membuktikan bahwa Singapura selalu siap membantu Indonesia. Baik itu saat bencana tsunami, gempa bumi, krisis moneter, Covid 19, investasi hingga pendidikan. Bahkan pembangunan Batam-Bintan, area industri Kendal di Jawa Tengah, serta kerja sama militer.

Menurut Wamenlu era SBY, Singapura memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia. Itu karena Negeri Singa akan menjadi salah satu negara paling terdampak saat terjadi guncangan gejolak politik dan ekonomi di Indonesia.

[Gambas:Instagram]

"Hukumnya tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura," tegas Dino.

Kebijakan Singapura juga dinilai untuk menjaga kerjasama dan saling percaya, bukan untuk aksi jahat dan melakukan sabotase.

Ia juga menyinggung pepatah yang kerap disuarakan yakni "Sejuta kawan terlalu sedikit, satu lawan musuh terlalu banyak". Hal itu justru berlawanan dengan kondisi yang tengah terjadi saat ini.

"Akan sangat kontradiktif kalau kita memperlakukan tetangga terdekat Singapura seperti lawan dan dengan penuh curiga," jelas Dino.

Adapun terkait masalah kabut asap yang masih berlangsung, Dino menjelaskan itu sebagai test case (tolak ukur). Bagaimana Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bisa berdiplomasi secara bijak dalam menangani krisis kebakaran hutan.

"Bagaimana Indonesia bisa bertetangga terus dalam keadaan sulit, dan bagaimana sebagai negara yang dianggap pemimpin natural di kawasan Asia Tenggara ini dengan cara semakin mengukuhkan kebesaran Indonesia, bukan kekerdilan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan kejadian bencana tsunami Aceh dan Nias yang terjadi pada 2004. Di mana cara Indonesia menangani krisis alam terbesar dalam sejarah justru membuat negara tetangga dan bangsa lain kompak membantu di bawah komando Indonesia.

Alhasil, krisis tsunami berhasil ditangani dengan baik. Sebagai bonus tambahan, respect dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia juga ikut semakin tinggi.

(ins)