Bahlil Ancam Setop Ekspor Energi ke Negara yang Tak Hargai RI

CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 18:35 WIB
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Bahlil menyampaikan bahwa stok Per
Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengaku tak segan menghentikan ekspor komoditas energi ke negara yang tidak menghargai Indonesia. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku tak segan menghentikan ekspor komoditas energi ke negara-negara yang tidak menghargai Indonesia.

Sikap tersebut berkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan energi dalam negeri, di mana pemerintah kini memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik.

Bagi negara yang dinilai tidak kooperatif dan tak menghargai Indonesia, Bahlil akan mempertimbangkan opsi penghentian ekspor energi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya akan melakukan evaluasi dan saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia," ujarnya dalam acara Peresmian Penerimaan Gas JNE#6 dan Fasilitas Produksi Lapangan Mahan - South yang disiarkan secara langsung melalui YouTube Kementerian ESDM, Kamis (22/10).

Sebaliknya, bagi negara-negara yang bersikap baik dan menghargai Indonesia, Bahlil menyebut sekalipun mereka tidak punya kontrak, Pemerintah RI akan membuatkan langsung kontrak untuk mereka.

Ketua Umum Partai Golkar itu menekankan langkah ini merupakan bentuk penerapan asas kesetaraan dalam hubungan antarnegara.

Menurut Bahlil, Indonesia harus selalu memegang teguh prinsip kedaulatan negara, mengingat kemerdekaan RI diraih melalui perjuangan sejarah yang panjang.

"Kemerdekaan bukan hasil pemberian. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang diperjuangkan berabad-abad. Banyak yang dibunuh, banyak yang disuruh kerja paksa, banyak yang dilakukan pemerkosaan," ujarnya.

Oleh karena itu, Bahlil ingin kemerdekaan Indonesia yang diraih dengan perjuangan ini dihormati oleh dunia internasional.

Ia secara khusus menyindir dan menolak jika ada negara yang kemerdekaannya sekadar hasil pemberian pihak lain, justru merasa paling hebat dibanding Indonesia.

"Kemerdekaan Indonesia diraih dengan darah keringat dan air mata serta nyawa. Saya tidak ingin ada negara lain yang kemerdekaannya diberikan mau untuk mencoba menganggap seolah-olah mereka yang paling hebat daripada negara yang lain," ujar Bahlil.

Wacana untuk menyetop ekspor energi ini juga sempat disinggung Bahlil, khususnya terkait dengan peluang menghentikan aliran ekspor gas ke negara tetangga.

Wacana tersebut bergulir sebagai respons atas pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (21/10).

Dalam sidang tersebut, Prabowo mengingatkan kondisi Indonesia saat ini sedang berada dalam fase bertahan atau survival.

Merespons kondisi survival tersebut, Bahlil secara terbuka mengkaji penghentian perpanjangan kontrak ekspor gas agar pasokannya bisa digunakan sepenuhnya di dalam negeri.

"Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri," ujar Bahlil.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)