BI Bakal Kurangi Surat Utang Bertahap, Longgarkan Likuiditas di Pasar

CNN Indonesia
Minggu, 25 Okt 2026 08:45 WIB
Bank Indonesia akan mengurangi penerbitan surat utangnya secara bertahap untuk melonggarkan likuiditas pasar uang, serta memastikan keseimbangan tenor. (FOTO:CNN Indonesia/Laurent Nabila).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) bakal terus mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau surat utang jangka pendek secara bertahap untuk memperlonggar likuiditas di pasar uang.

Langkah tersebut dilakukan agar dana yang sebelumnya terkunci pada instrumen moneter tenor panjang dapat lebih tersedia di pasar uang dalam jangka pendek dan menengah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan BI telah melakukan kalibrasi terhadap SRBI, baik dari sisi imbal hasil maupun volume likuiditas yang diserap.

Erwin mencatat posisi SRBI pernah mencapai level tertinggi sekitar Rp1.070 triliun. Sementara posisi terakhir telah turun ke kisaran Rp900 triliun. Dengan penurunan tersebut, BI memperkirakan telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dari posisi tertinggi SRBI.

"Highest ever posisi SRBI itu pernah 1.070 dan kemarin posisi terakhir sudah turun 900-an, jadi kita sudah rilis sebenarnya likuiditas itu dari SRBI itu lebih kurang dari posisi tertingginya sekitar 150," kata Erwin dalam taklimat media BI, Jumat (23/10).

Menurut dia, BI akan melanjutkan kalibrasi tersebut dengan mempertimbangkan perkembangan likuiditas di pasar. Pengurangan SRBI tidak dilakukan secara tiba-tiba, melainkan secara bertahap dan terukur.

"SRBI itu secara perlahan kita akan kurangi terus secara terukur dengan melihat dinamika yang ada," ujarnya.

Erwin menjelaskan kebijakan tersebut ditujukan untuk menyeimbangkan likuiditas yang berada pada instrumen tenor panjang dengan likuiditas yang tersedia dalam jangka pendek dan menengah.

SRBI memiliki tenor 6, 9, dan 12 bulan. Menurut Erwin, sebagian likuiditas sebelumnya banyak terserap pada tenor-tenor panjang tersebut. Dengan mengurangi volume SRBI secara bertahap, BI ingin memastikan dana yang tersedia di pasar uang cukup untuk memenuhi kebutuhan likuiditas harian.

"Sehingga likuiditasnya itu bisa balance antara likuiditas yang kita kunci di jangka panjang dengan likuiditas yang di jangka pendek dan menengah," jelas Erwin.

Ia mengatakan kecukupan likuiditas harian penting agar pergerakan suku bunga pasar uang tetap berada dalam koridor yang diharapkan BI. Kondisi tersebut sekaligus diperlukan untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter dari BI Rate ke pasar uang dan selanjutnya ke sektor perbankan.

"Sehingga ketersediaan likuiditas di dalam konteks istilah yang Pak Firman tadi, likuiditas yang ada di pasar uang itu lebih tercukupi dalam setiap harinya," kata Erwin.

Erwin mengatakan BI juga akan menyesuaikan volume penerbitan SRBI melalui lelang dengan melihat kondisi likuiditas. Kebijakan itu dilakukan secara orderly atau teratur sehingga tidak menimbulkan gejolak di pasar.

"Secara gradual kalibrasi terus kita lakukan dari sisi volume," ujar Erwin.

Meski penerbitan SRBI dikurangi, BI tetap mempertahankan instrumen tersebut sebagai salah satu aset rupiah yang menarik, khususnya berkaitan dengan masuknya modal asing.

Erwin menjelaskan SRBI tetap memiliki fungsi sebagai instrumen operasi moneter. Tingkat imbal hasilnya juga tidak ditentukan secara sembarangan karena mempertimbangkan BI Rate, ekspektasi inflasi, dan risk premium.

"SRBI ini kan bisa dibeli asing," kata Erwin.

Karena itu, menurut dia, penyesuaian SRBI harus tetap mempertimbangkan daya tarik instrumen tersebut bagi investor asing, sekaligus kebutuhan likuiditas domestik.

Di sisi lain, BI tetap membuka akses likuiditas bagi perbankan melalui instrumen operasi moneter lainnya. Erwin mengatakan fasilitas repo tersedia mulai tenor satu minggu hingga 12 bulan.

Perbankan yang membutuhkan likuiditas dapat melakukan repo dengan menggunakan surat berharga yang dimilikinya, termasuk SBN dan SRBI.

"Kalau mereka SBN dan SRBI tidak punya, tapi punya likuiditas valas mereka bisa akses swap ke Bank Indonesia," ujar Erwin.

BI juga menyediakan fasilitas swap secara reguler dengan tenor satu, tiga, enam, hingga 12 bulan. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari pengelolaan likuiditas perbankan, terutama karena bank menghadapi perbedaan jatuh tempo antara dana yang dihimpun dan kredit yang disalurkan.

"Bisnis bank itu mereka kan mengelola mismatch, melakukan collecting fund yang jangka pendek tapi kan pembiayaan kreditnya jangka panjang," pungkasnya.

(lau/ins/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK