BI Lepas Likuiditas Rp90 T dari GWM, Uangnya Bakal Mengalir ke Mana?

CNN Indonesia
Minggu, 25 Okt 2026 10:10 WIB
Bank Indonesia (BI) akan melepas tambahan likuiditas sekitar Rp90 triliun ke perbankan melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 1 persen. Ilustrasi. (REUTERS/WILLY KURNIAWAN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) akan melepas tambahan likuiditas sekitar Rp90 triliun ke perbankan melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 1 persen.

Dana tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk menyeimbangkan likuiditas perbankan sekaligus memperkuat transmisi kebijakan suku bunga ke sektor ekonomi.

Kepala Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan penurunan GWM dilakukan karena pertumbuhan kredit perbankan masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Kondisi itu membuat bank sentral perlu mengatur kembali keseimbangan likuiditas agar tetap sejalan dengan BI-Rate, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi.

"Memang perlu mengimbangkan likuiditas agar respons dari BI-Rate yang menjadi anchor dari stance kebijakan pemerintah ini bisa tertransmisi lebih efektif dalam mencapai sasaran," ujar Firman dalam taklimat media BI, Jumat (23/10).

Bank sentral sebelumnya menetapkan GWM bank umum konvensional sebesar 9 persen. Rasio tersebut akan diturunkan menjadi 7 persen secara bertahap, yakni masing-masing 1 persen mulai 1 November dan 1 Desember 2026.

Secara keseluruhan, penurunan 2 persen tersebut diperkirakan menambah likuiditas sekitar Rp190 triliun ke sistem perbankan.

Namun, menurut Firman, dari total penurunan 2 persen tersebut, hanya sekitar 1 persen yang berasal dari dana yang masih tersimpan di BI. Pelepasan 1 persen inilah yang memberikan tambahan likuiditas sekitar Rp90 triliun.

"Penurunan GWM itu ada dua. GWM yang memang disimpan masih disimpan di BI, ini 1 persen. Sekarang 3 persen dari 9 itu yang masih disimpan di BI, 6 menjadi fasilitas yang digunakan oleh Bu Yanti (Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI) untuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)," ujar Firman.

Ke mana dana Rp90 triliun tersebut akan mengalir?

Firman menegaskan tambahan likuiditas itu tidak secara otomatis diarahkan hanya ke satu sektor tertentu. Bank akan memperoleh ruang yang lebih fleksibel dalam mengelola dana tersebut.

Menurut Firman, sebagian dana yang sebelumnya masih berada di BI dapat digunakan perbankan untuk mendukung kegiatan ekonomi tanpa harus dikaitkan dengan kredit tertentu.

"Tambahan ini adalah mengembalikan keseimbangan likuiditas yang konsisten dengan BI-Rate dan pertumbuhan plus inflasi dengan kegiatan ekonomi," ujar Firman.

Ia juga memastikan tambahan likuiditas tersebut tidak ditujukan untuk membuat uang beredar menjadi berlebihan. BI, kata dia, telah memperhitungkan kebutuhan likuiditas dengan mempertimbangkan sasaran inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

"Apakah ini akan mendorong likuiditas berlebihan? Hitungan kita tidak, karena kami itu selalu menghitung berapa sih uang yang beredar di masyarakat yang seharusnya terjadi," ujarnya.

Firman menjelaskan sebagian dana dalam skema penurunan GWM kedua sebenarnya sudah berada di dalam sistem perbankan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Dana tersebut sebelumnya diberikan dengan keterkaitan pada penyaluran kredit sektor tertentu.

Dengan penyesuaian 1 persen pada komponen tersebut, bank akan mendapatkan fleksibilitas lebih besar dalam menggunakan dana yang sudah dimilikinya.

"KLM kan sudah dimanfaatkan oleh perbankan untuk kredit, tapi dengan kita turunkan dia 1 persen, perbankan punya fleksibilitas pemanfaatan dana yang sudah dimiliki, tidak harus dikaitkan dengan kredit tertentu," jelas Firman.

Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Yanti Sri Meyyanti mengatakan pelonggaran likuiditas tersebut tetap akan dibarengi dengan pengaturan agar penyaluran kredit berjalan sesuai arah yang diharapkan.

Pasalnya, pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 mencapai 13,26 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan DPK hanya 8,22 persen. Artinya, pertumbuhan kredit masih jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana yang dihimpun perbankan.

"DPK kita itu tumbuhnya 8,22 persen, artinya memang masih dibutuhkan upaya-upaya bagaimana supaya perbankan itu memiliki dana yang cukup untuk melanjutkan pertumbuhan kreditnya," ujar Yanti.

Menurut Yanti, kebijakan makroprudensial BI tetap longgar, tetapi bank tetap harus menjaga kecukupan modal, kualitas kredit, dan likuiditas.

Pada saat yang sama, BI akan menyesuaikan sektor-sektor yang menjadi sasaran KLM. Yanti mengatakan sektor pertanian, industri, dan hilirisasi telah hampir sepenuhnya memanfaatkan insentif KLM. Karena itu, BI akan mengevaluasi sektor-sektor tersebut dan membuka ruang bagi sektor lain yang dinilai lebih membutuhkan dukungan.

"Untuk sektor pertanian, industri dan hilirisasi itu sudah hampir penuh kemanfaatan dari KLM-nya. Ini artinya perbankan sudah mulai menyalurkan kredit ke sana, sehingga ini nanti kita evaluasi dan kita masukkan sektor-sektor yang baru, yang lebih mendukung kepada penciptaan lapangan kerja," ujar Yanti.

Dengan skema tersebut, tambahan likuiditas dari penurunan GWM tidak berarti BI menyerahkan seluruh arah penggunaan dana kepada perbankan tanpa pengawasan. Yanti mengatakan KLM menggunakan pendekatan forward looking, yakni bank terlebih dahulu menyampaikan komitmen penyaluran kredit dan kemudian realisasinya akan dievaluasi.

"Bank harus menyampaikan komitmen akan menyalurkan kredit pada sektor mana saja, nanti setelah itu di akhir periode kita lakukan perhitungan. Kita cek sesuai nggak antara komitmen dengan realisasinya," kata Yanti.

BI juga menilai kondisi likuiditas perbankan secara keseluruhan masih memadai. Persoalan yang dihadapi bukan semata-mata kekurangan likuiditas, melainkan distribusi likuiditas yang belum merata antarbank.

Karena itu, tambahan likuiditas dari GWM diharapkan tidak hanya memperbesar ruang perbankan dalam menyalurkan kredit, tetapi juga membantu memperbaiki distribusi likuiditas di sistem perbankan.

"Kita itu melakukan kebijakan ini adalah untuk mengarahkan perilaku dari perbankan. Dari sisi makroprudensialnya penurunan dari GWM ini memberikan fleksibilitas, tapi tetap kita berikan suatu rambu-rambu," ujar Yanti.

Di sisi lain, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Firman mengatakan kombinasi penurunan GWM dan kenaikan Deposit Facility bukan kebijakan yang saling bertentangan.

Menurutnya, penurunan GWM ditujukan untuk menyeimbangkan jumlah likuiditas, sedangkan kenaikan Deposit Facility digunakan untuk membuat koridor suku bunga pasar uang kembali simetris terhadap BI-Rate.

"Ini adalah bagian dari upaya kami menyeimbangkan, malah dia menjadi lebih seimbang menjadi harmonis antara BI-Rate dengan liquidity yang terjadi," kata Firman.

Dengan BI-Rate yang dipertahankan pada 5,75 persen, deposit facility kini berada 75 basis poin di bawah BI-Rate, sementara lending facility berada 75 basis poin di atasnya. Lebih lanjut, BI berharap struktur tersebut memperkuat transmisi kebijakan moneter melalui pasar uang hingga ke perbankan dan perekonomian.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/bac)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK