ESDM Update MAGMA Indonesia, Kini Warga Bisa Cek Lokasi Rawan Bencana

Kementerian ESDM | CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 17:17 WIB
Foto: Arsip Kementerian ESDM
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan versi terbaru MAGMA Indonesia yang memungkinkan masyarakat memantau informasi kebencanaan geologi, termasuk mengetahui posisi mereka terhadap kawasan rawan bencana.

Pembaruan aplikasi yang dikembangkan Badan Geologi tersebut mencakup informasi aktivitas gunung api, gempa bumi, tsunami, hingga gerakan tanah dalam satu layanan digital. MAGMA Indonesia versi terbaru diluncurkan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10).

Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan sistem tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas pertukaran informasi kebencanaan antarkementerian dan lembaga.

"Jadi nanti dari pemanfaatan sistem yang sudah dibangun, informasi yang sudah dibangun ini kita bisa sharing-kan dengan Kementerian/Lembaga," ujar Yuliot.

Menurut dia, pemanfaatan informasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan informasi kebencanaan sekaligus mendukung upaya mitigasi risiko demi keselamatan masyarakat.

Yuliot menegaskan hasil pemantauan kebencanaan perlu ditindaklanjuti melalui langkah konkret di masing-masing instansi.

"Dari mitigasi ini harus kita uraikan di dalam rencana aksi untuk setiap Kementerian/Lembaga," katanya.

MAGMA Indonesia versi terbaru kini dapat diakses melalui situs web dan perangkat Android. Aplikasi tersebut juga resmi tersedia bagi pengguna iOS, memperluas akses masyarakat terhadap informasi kebencanaan geologi melalui perangkat seluler.

Badan Geologi menghadirkan 10 pembaruan fitur utama dalam versi terbaru ini. Salah satu fitur yang diunggulkan adalah Geohazard Location Awareness, yang memungkinkan pengguna mengetahui posisi mereka terhadap wilayah yang memiliki potensi bahaya geologi.

Selain itu, aplikasi ini dilengkapi peningkatan pemantauan visual melalui kamera pengawas atau CCTV serta tampilan live seismogram yang lebih stabil.

Pengguna juga dapat mengakses riwayat aktivitas kebencanaan, sementara integrasi melalui Application Programming Interface (API) memungkinkan pertukaran data dengan sistem lain.

Untuk mendukung penyampaian peringatan dini, MAGMA Indonesia turut menggunakan Common Alerting Protocol (CAP), yakni format standar untuk penyebaran informasi peringatan.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan pengembangan aplikasi tersebut ditujukan agar informasi kebencanaan dapat mendorong masyarakat mengambil langkah antisipasi secara lebih cepat dan tepat.

"Sistem ini pada intinya dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan aksi dini (early action) yang tepat sasaran, sehingga risiko dan dampak dari bencana geologi dapat diminimalisir," ujar Lana.

Integrasi API juga memungkinkan lembaga seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta kementerian dan lembaga lainnya mengakses informasi MAGMA Indonesia melalui sistem masing-masing.

Integrasi tersebut diharapkan memperkuat koordinasi antarlembaga dan mempercepat penyampaian informasi kepada pengambil kebijakan maupun masyarakat.

Melalui pembaruan ini, Kementerian ESDM berupaya memperluas pemanfaatan informasi kebencanaan agar tidak hanya menjadi data pemantauan, tetapi juga menjadi dasar peringatan dini, kesiapsiagaan, dan pengambilan keputusan.

Dengan akses informasi yang semakin luas, masyarakat diharapkan dapat memantau perkembangan potensi bencana geologi secara lebih mudah sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko dan dampak bencana.

(ory/ory)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VIDEO: Pemerintah Tegaskan Stok BBM Aman

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK