Kementerian ESDM Luncurkan 2 Atlas Gempa Bumi, Peta Tanah Lebih Rinci

Kementerian ESDM | CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 17:11 WIB
Menteri ESDM, Yuliot, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10). (Foto: Arsip Kementerian ESDM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan dua atlas kebencanaan geologi yang mencakup seluruh Indonesia. Salah satunya memiliki resolusi peta 10 kali lebih rinci untuk menggambarkan karakteristik tanah yang memengaruhi kuat-lemahnya guncangan gempa bumi.

Melalui Badan Geologi, Kementerian ESDM meluncurkan Atlas Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) dan Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua. Kedua atlas tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat sebagai referensi mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, mengatakan pemanfaatan peta yang terintegrasi diperlukan agar berbagai pihak memiliki acuan yang sama dalam mengambil keputusan terkait mitigasi risiko bencana.

"Jadi harapan kami melihat kondisi ini kita bisa petakan di dalam sistem yang terintegrasi. Sehingga siapa pun itu kementerian/lembaga yang mengambil keputusan, mengambil tindakan dalam rangka mitigasi risiko, itu bisa kita menggunakan peta yang sama," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10).

Pada acara di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, tersebut, Yuliot juga menekankan pentingnya pengembangan sistem secara bersama-sama untuk mendukung integrasi informasi kebencanaan.

"Yang pertama adalah dengan adanya sistem kita memastikan adanya inovasi sistem, integrasi sistem yang kita bangun bersama-sama," imbuh dia.

Atlas KRBG memuat informasi mengenai tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap bahaya gempa bumi. Penyusunannya mempertimbangkan sumber gempa, katalog kejadian gempa, karakteristik geologi, dan kondisi tanah setempat.

Informasi tersebut dapat menjadi salah satu dasar dalam perencanaan tata ruang, pengembangan permukiman, pembangunan infrastruktur, serta penyusunan langkah mitigasi. Dengan demikian, potensi bahaya gempa dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pemanfaatan ruang dan perencanaan pembangunan.

Sementara itu, Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua memetakan karakteristik tanah yang memengaruhi respons suatu wilayah terhadap guncangan gempa. Salah satu parameter yang digunakan adalah kecepatan gelombang geser rata-rata hingga kedalaman 30 meter atau average shear-wave velocity (Vs30).

Pada edisi kedua, resolusi peta meningkat dari grid 300 meter menjadi 30 meter. Peningkatan tersebut memungkinkan variasi kondisi tanah digambarkan secara lebih rinci dibandingkan edisi sebelumnya.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan peningkatan resolusi peta dapat mendukung kajian bahaya gempa bumi dan perencanaan pembangunan yang mempertimbangkan kondisi geologi setempat.

"Kami berharap atlas ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, akademisi, dan para perencana dalam mendukung pembangunan yang lebih tangguh terhadap gempa bumi," tuturnya.

Kedua atlas tersebut juga dapat digunakan sebagai referensi awal dalam perencanaan infrastruktur energi. Pembangkit listrik, jaringan transmisi, fasilitas minyak dan gas bumi, serta infrastruktur energi lainnya perlu direncanakan dengan mempertimbangkan potensi bahaya geologi agar aspek keselamatan dan mitigasi diperhatikan sejak tahap awal.

Kementerian ESDM menyediakan akses gratis terhadap kedua atlas melalui Portal Mitigasi Bencana Geologi. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan pengambilan keputusan, mulai dari perencanaan pemerintah daerah hingga pembangunan rumah oleh masyarakat.

(rir)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK