Silat Pendapat Lutfi vs Dino soal Singapura hingga Karhutla

CNN Indonesia
Sabtu, 24 Okt 2026 09:10 WIB
Dino Patti Djalal
Muhammad Lutfi dan Dino Patti Djalal sampaikan beda pandangan mereka soal hubungan Indonesia-Singapura terkait pasar modal dan karhutla. (FOTO:CNN Indonesia/Natalia Santi).

Lutfi juga menuding praktik perdagangan antarpihak terafiliasi atau transfer pricing dapat digunakan untuk menggeser keuntungan ke luar negeri dan menekan pembayaran pajak di Indonesia. Ia menilai persoalan tersebut perlu ditelusuri melalui pemeriksaan terhadap perusahaan dan jaringan bisnisnya.

Ia pun meminta Singapura tidak berhenti pada surat peringatan, melainkan menggunakan hukum yang berlaku di negaranya untuk memeriksa perusahaan yang berkantor pusat di sana.

"Jangan hanya menulis surat, jangan hanya mengirim peringatan ke Jakarta, geledah kantor mereka di Singapura pakai hukum Singapura. Kalau mau tegas, jangan hanya tegas ke orang kecil, tapi ke semua orang," kata Lutfi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, Lutfi juga menolak jika persoalan karhutla digunakan untuk menyudutkan Indonesia secara keseluruhan. Ia menilai pertanggungjawaban harus diarahkan kepada perusahaan yang terbukti terlibat, tanpa memandang negara asalnya.

Desakan Malaysia

Lutfi juga mengkritik seruan politikus Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman yang meminta negara-negara ASEAN memberikan tekanan diplomatik kepada Indonesia terkait kabut asap. Syed Saddiq bahkan menyerukan agar Indonesia diperlakukan sebagai negara yang dikucilkan di kawasan.

Lutfi menilai seruan tersebut mengabaikan keterlibatan perusahaan lintas negara dalam industri sawit. Menurut dia, sejumlah kelompok usaha Malaysia memiliki konsesi perkebunan di Indonesia, sementara pengolahan minyak sawit dan sebagian keuntungan bisnis dilakukan di luar negeri.

Ia menyebut kelompok usaha Malaysia menguasai hingga 3,4 juta hektare konsesi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Namun, angka tersebut merupakan klaim Lutfi dalam unggahannya dan tidak disertai data independen dalam materi yang tersedia.

Lutfi juga menyoroti pola perdagangan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Indonesia ke kilang pengolahan di Malaysia dan Eropa. Menurut dia, pola tersebut membuat Indonesia menanggung risiko lingkungan dari perkebunan, sementara nilai tambah produk olahan dinikmati perusahaan di luar negeri.

"Jika sebuah perusahaan, baik Indonesia maupun Malaysia, bertanggung jawab atas kebakaran, tuntut perusahaan itu. Namun, jangan menghina seluruh bangsa dan jangan pernah menyebut Indonesia sebagai negara yang dikucilkan," tulis Lutfi.

Ia turut menyinggung tiga persoalan yang menurutnya perlu diperhitungkan dalam perdebatan karhutla, yakni perdagangan CPO dan hilirisasi sawit, dugaan pelanggaran hak pekerja di perusahaan Malaysia, serta temuan titik api di konsesi perusahaan Malaysia yang beroperasi di Indonesia.

Lutfi menyebut laporan  Oktober 2026 mencatat titik api di konsesi sejumlah perusahaan. Ia juga menyinggung perusahaan Malaysia yang pernah menjadi sorotan terkait dugaan kerja paksa dan pekerja anak dalam rantai pasok sawit. Klaim dan rujukan tersebut perlu dilihat sesuai temuan serta konteks masing-masing laporan.

Menurut Lutfi, persoalan lingkungan tidak semestinya dibebankan kepada seluruh warga Indonesia, tetapi harus ditelusuri hingga ke perusahaan, pemilik konsesi, dan rantai pasok yang terlibat.

"Jika kita benar-benar menginginkan akuntabilitas, mari periksa korporasinya dan telusuri rantai pasoknya dari hulu hingga ke meja direksi," ujarnya.

Mengedepankan Diplomasi

Berbeda dengan Lutfi yang menyoroti kepentingan ekonomi perusahaan lintas negara dan mendesak tindakan tegas, Dino memandang persoalan kabut asap sebagai ujian bagi diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Dino, Indonesia perlu menunjukkan kemampuan menjaga hubungan baik dengan negara tetangga meskipun tengah menghadapi persoalan yang berpotensi memicu ketegangan. Ia mengingatkan bahwa penyelesaian masalah lingkungan lintas batas perlu dilakukan tanpa merusak hubungan regional.

"Bagaimana Indonesia bisa terus bertetangga dengan baik dalam situasi sulit dan bagaimana Indonesia sebagai negara yang dianggap sebagai pemimpin natural di kawasan Asia Tenggara bisa menangani krisis asap ini dengan cara yang semakin mengukuhkan kebesaran Indonesia bukan kekerdilan," ujar Dino.

Ia mencontohkan penanganan tsunami Aceh dan Nias pada 2004. Saat itu, menurut Dino, Indonesia mampu memimpin penanganan bencana dengan melibatkan bantuan dari negara tetangga dan komunitas internasional.

Dino menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa krisis dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama dan kepercayaan internasional, bukan justru memperuncing pertentangan.

Di tengah polemik karhutla, ia juga menekankan bahwa Indonesia perlu menjaga kepentingan nasional tanpa memandang negara tetangga sebagai lawan. Baginya, persoalan perusahaan yang diduga terkait kebakaran harus ditangani, tetapi langkah itu perlu berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan hubungan diplomatik.

"Sejuta kawan terlalu sedikit, satu lawan musuh terlalu banyak," ujar Dino, mengutip pepatah yang menurutnya relevan dengan situasi saat ini.

[Gambas:Video CNN]

(del/ins)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2