Daftar Saham Berpotensi Cuan di Pekan Terakhir Oktober
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 51,35 poin atau 0,95 persen di level 5.439 pada Jumat (23/10) silam.
Investor melakukan transaksi sebesar Rp16,19 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 43,93 miliar saham.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham menguat selama empat hari. Tak heran, performa indeks tercatat naik 4,90 persen sepanjang pekan kemarin.
Senada, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Elsierra Putri Yosita mengatakan selama periode tanggal 19 sampai dengan 23 Oktober 2026 perdagangan saham ditutup positif.
Tercatat, kapitalisasi pasar bursa mengalami peningkatan sebesar 4,66 persen dari Rp9.157 triliun menjadi Rp9.583 triliun pada pekan lalu. Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian mengalami penurunan sebesar 9,39 persen dari 44,10 miliar menjadi 39,96 miliar lembar saham.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian meningkat sebesar 25,42 persen dari Rp16,22 triliun menjadi Rp20,34 triliun.
Kemudian, rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami peningkatan 13,80 persen dari 1,72 juta kali transaksi menjadi 1,95 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
"Dari sisi transaksi investor asing, pada Jumat (23/10), investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp1,28 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026 hingga periode pelaporan, investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp94,87 triliun," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (23/10).
Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?
Lihat Juga : |
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan indeks saham bergerak cenderung menguat pada perdagangan hari ini (26/10). Meski demikian, pergerakan IHSG masih akan dibayangi sejumlah sentimen eksternal dan domestik.
Oktavianus menyoroti peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan eskalasi terhadap Iran. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah naik hingga US$103 per barel pada pekan lalu.
"Kenaikan harga minyak mentah di tengah meningkatnya tensi AS-Iran memberikan sinyal negatif terhadap inflasi yang diperkirakan tetap tinggi, sehingga bank sentral masih berpotensi bersikap hawkish. Di sisi lain, pelemahan rupiah dan arus dana keluar yang besar juga menjadi tekanan bagi pasar," kata Oktavianus kepada CNNIndonesia.com, Senin (26/10).
Dari dalam negeri, rupiah melemah hingga menyentuh Rp18.089 per dolar AS sehingga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi. Sepanjang pekan lalu, IHSG juga mencatatkan arus dana keluar (capital outflow) mencapai Rp8 triliun di seluruh perdagangan.
Investor turut menantikan keputusan suku bunga The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 4 persen.
Namun, data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 68,8 persen menjadi 4,25 persen pada Desember 2026. Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut berpotensi direspons negatif oleh pasar.
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham PT Surya Semesta Internusa Tbk atau SSIA yang ditutup menguat 1,92 persen ke posisi 1.330 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi SSIA dapat menyentuh level 1.430 pada pekan ini.
Kedua, saham PT Rukun Raharja Tbk atau RAJA yang ditutup menguat 4,60 persen ke level 500 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi RAJA dapat menyentuh level 590 pada pekan ini.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan indeks saham bergerak terbatas pada perdagangan sepekan ke depan dengan level support 5.185 dan resistance 5.563.
Ia menilai pergerakan indeks akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, mulai dari kinerja emiten perbankan hingga arah kebijakan suku bunga AS.
Pasar akan mencermati rilis kinerja emiten perbankan yang sejauh ini diperkirakan masih menunjukkan pertumbuhan moderat. Meski demikian, kinerja tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki pergerakan IHSG.
Investor juga akan memantau perkembangan MSCI terhadap Indonesia serta kinerja lembaga penyelenggara mandiri (self-regulatory organization/SRO) untuk melihat apakah keduanya dapat membawa sentimen positif bagi pasar.
"Pergerakan IHSG sepekan ke depan diperkirakan terbatas. Pasar akan mencermati kinerja emiten perbankan, perkembangan MSCI terhadap Indonesia, serta hasil FOMC Meeting di tengah sikap The Fed yang masih cenderung hawkish," kata Herditya.
Selain itu, pasar akan menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan depan. Secara konsensus, The Fed diperkirakan masih berpeluang mempertahankan suku bunga.
Namun, sikap bank sentral AS yang masih hawkish membuka peluang kenaikan suku bunga acuan atau FFR setidaknya satu kali sepanjang 2026.
Ia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan. Herditya pun merekomendasikan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMN, PT Buana Lintas Lautan Tbk atau BULL, serta PT Gudang Garam Tbk atau GGRM.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
(pta)