Pertamina Kaji Teknologi Gas Jepang untuk Perkuat Ketahanan Energi

Pertamina | CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 13:59 WIB
Pertamina
Foto: Arsip Pertamina.
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) menjajaki teknologi penyimpanan dan distribusi gas berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF) bersama dua perusahaan Jepang, Yachiyo Engineering Co., Ltd. dan Atomis Inc. Studi kolaborasi ini dilakukan untuk memperluas akses energi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan dalam mendistribusikan energi ke berbagai wilayah dengan kondisi geografis dan infrastruktur yang berbeda. Karena itu, teknologi penyimpanan dan pengangkutan gas tanpa jaringan pipa menjadi salah satu alternatif yang dikaji Pertamina untuk melengkapi infrastruktur distribusi energi yang telah tersedia.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) pada 23 Oktober 2026. Perjanjian ditandatangani oleh SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti, Representative Director & CEO Atomis Daisuke Asari, serta Director & Executive Officer, Head of the Business Development Division Yachiyo Engineering Kenjiro Yamanaka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penandatanganan itu disaksikan perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Koordinator Keselamatan Hilir Migas Yuki Haidir, serta Duta Besar Jepang untuk Indonesia Atsushi Ueno.

PTH Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Mega Satria mengatakan kolaborasi dengan mitra internasional dan pengembangan inovasi teknologi merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk membuka peluang bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

"Melalui kolaborasi strategis dengan mitra internasional, Pertamina berupaya mengeksplorasi solusi teknologi yang dapat mendukung diversifikasi energi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya gas domestik," kata Mega.

Mega mengatakan, teknologi penyimpanan gas berbasis MOF ini memiliki potensi untuk melengkapi pilihan distribusi energi, termasuk bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa. Ke depan, studi ini perlu dilaksanakan secara sistematis dengan koordinasi yang erat antarpihak, tujuan yang jelas, serta tahapan dan hasil yang terukur.

"Aspek keselamatan, kelayakan teknis dan keekonomian, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengelolaan risiko harus menjadi pertimbangan utama agar hasil kajian dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang tepat dan memberikan nilai tambah bagi Pertamina maupun ketahanan energi nasional," ujar Mega.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perusahaan memiliki peran strategis dalam menghubungkan potensi sumber daya energi domestik dengan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

Baron mengatakan, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi yang perlu didukung oleh solusi distribusi sesuai karakteristik negara kepulauan.

"Sebagai perusahaan energi nasional milik negara, Pertamina terus mengeksplorasi inovasi untuk memperkuat ketahanan energi dan memperluas akses masyarakat terhadap energi yang terjangkau," ujar Baron.

Dalam studi tersebut, Pertamina bersama Yachiyo Engineering dan Atomis mengevaluasi teknologi CubiTan®️ yang dikembangkan Atomis. Teknologi ini memanfaatkan material MOF berpori untuk mengadsorpsi atau mengikat molekul gas pada permukaannya.

Metode tersebut berpotensi memungkinkan penyimpanan gas metana pada tekanan lebih rendah dibandingkan sistem gas alam terkompresi konvensional. Potensi ini kemudian dikaji untuk mengetahui kesesuaiannya dalam penyimpanan dan pengangkutan gas, terutama ke wilayah yang belum memiliki akses memadai terhadap jaringan pipa.

Studi itu juga mencakup evaluasi potensi pemanfaatan gas bumi sebagai alternatif bagi berbagai aplikasi yang selama ini menggunakan LPG. Jika memenuhi persyaratan teknis, keselamatan, regulasi, dan keekonomian, teknologi tersebut berpotensi memperluas pilihan pasokan energi dan mengoptimalkan pemanfaatan gas domestik, termasuk untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor.

Baron menegaskan, kerja sama dengan kedua perusahaan Jepang tersebut masih berada pada tahap kajian. Hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk menentukan kemungkinan pengembangan teknologi lebih lanjut.

"Inovasi harus memberikan manfaat nyata dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Karena itu, kami mengedepankan pengujian menyeluruh terhadap aspek keselamatan, kelayakan operasional, dan keekonomian," tutur Baron.

"Teknologi yang dikaji diharapkan dapat melengkapi pilihan distribusi gas sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik," tambah Baron.

Selain teknologi penyimpanan gas, kolaborasi ini turut mengevaluasi konsep Smart Gas Network yang dikembangkan Yachiyo Engineering dan Atomis. Konsep tersebut mengintegrasikan wadah penyimpanan gas dengan sistem pemantauan jarak jauh untuk mendukung perencanaan pengiriman dan pengelolaan konsumsi gas.

Para pihak akan mengkaji kesesuaian konsep tersebut dengan kondisi infrastruktur, kebutuhan pengguna, serta ketentuan yang berlaku di Indonesia. Evaluasi juga dapat mencakup peluang pemanfaatan sumber gas domestik, termasuk gas berbasis biomassa, sesuai dengan lingkup studi.

Sebagai perusahaan energi nasional yang menjalankan bisnis dari hulu hingga hilir, Pertamina terus memperkuat bisnis inti sekaligus menjajaki peluang usaha rendah karbon melalui strategi dual growth.

Pengembangan dan penjajakan teknologi bersama mitra internasional menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan penerimaan masyarakat terhadap energi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

(ory/ory)
placeholder