Kenapa IHSG Merah Terus Sepekan Ini?

tim | CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 13:07 WIB
Warga melihat layar pergerakan saham pada gawainya di Jakarta, Kamis (24/2/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 102,24 poin atau 1,48 persen ke posisi 6.817,82 mengikuti anjloknya bursa saham regional dan global akibat konflik ant
Merosotnya IHSG sepekan ini tak semata karena sentimen MSCI. Tren ini dinilai mencermikan kepercayaan investor yang melemah terhadap pasar domestik. (Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan pada perdagangan pekan ini.

Setelah melemah selama dua hari berturut-turut pada awal pekan, indeks sempat menguat tipis pada Rabu (28/10), sebelum kembali anjlok pada Kamis (29/10). Tekanan berlanjut pada Jumat (30/10) pagi, ketika IHSG turun ke level 4.993.

Sejumlah sentimen membebani pergerakan indeks, mulai dari persoalan fiskal dan kenaikan harga minyak, evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), hingga keluarnya dana asing dan ketidakpastian global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata disebabkan oleh sentimen MSCI. Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kebutuhan dolar AS dan berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Kebutuhan dolar yang meningkat di tengah harga minyak tinggi, kata Ibrahim, menjadi salah satu faktor yang mendorong arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik. Persoalan fiskal menjadi sentimen utama yang perlu diperhatikan pasar.

"Memang yang paling utama adalah masalah fiskal. Masalah-masalah fiskal ini berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan," kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/10).

Terkait MSCI, Ibrahim mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih memiliki waktu hingga Juni 2027 untuk melakukan pembenahan. Jika reformasi tidak berjalan sesuai harapan, pasar modal Indonesia berisiko turun kelas dua tingkat menjadi pasar mandiri (standalone market).

"OJK itu diberi waktu cukup lama sebenarnya, bisa enggak melakukan perubahan reformasi? Kalau tidak, baru akan diturunkan," ujarnya.

Ibrahim juga menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang tembus level US$101. Selain itu, pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai kemungkinan serangan besar-besaran terhadap Iran setelah pemilu 3 November turut memicu kekhawatiran pasar.

Menurut Ibrahim, ketegangan geopolitik tersebut dapat mendorong kenaikan harga minyak dan indeks dolar AS, yang kemudian ikut menekan IHSG.

Pasar juga tengah menunggu data inflasi. Jika inflasi tercatat tinggi, kondisi itu berpotensi menambah tekanan terhadap pasar modal.

Dari sisi pasar saham, tekanan terlihat dari besarnya dana asing yang keluar. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investir Hendra Wardana mencatat investor asing melakukan jual bersih atau net sell sebesar Rp1,51 triliun di pasar reguler pada perdagangan Kamis (29/10). Secara akumulatif, net sell asing sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp126 triliun.

Hendra menilai angka tersebut mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar domestik. Tekanan yang terjadi bukan hanya persoalan penurunan harga saham, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan investor yang melemah.

"Persoalan utamanya bukan semata-mata valuasi saham yang turun, melainkan krisis kepercayaan yang membuat investor cenderung menahan pembelian dan memilih mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia," ucap Hendra.

Ia menjelaskan ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, transparansi kepemilikan saham, kualitas tata kelola, dan kredibilitas mekanisme perdagangan menjadi sejumlah hal yang dicermati investor. Mereka butuh kepastian mengenai kewajaran pembentukan harga, keterlacakan struktur kepemilikan, serta likuiditas pasar.

Hendra menilai rencana reformasi pasar modal belum cukup untuk memulihkan kepercayaan apabila belum diterapkan secara konsisten. Investor membutuhkan bukti pembenahan, keterbukaan informasi, penegakan aturan, dan kepastian kebijakan.

Selain faktor domestik, tekanan juga berasal dari pasar global. Hendra memandang ketidakpastian arah suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.

Kondisi tersebut dapat mendorong pergeseran dana dari pasar negara berkembang ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Tekanan dari berbagai sentimen tersebut tercermin dalam pergerakan IHSG sepanjang pekan ini. Pada Senin (26/10), indeks ditutup melemah 1,22 persen ke level 5.373. Pelemahan berlanjut pada Selasa (27/10), ketika IHSG turun 1,99 persen ke posisi 5.266.

Pada Rabu (28/10), IHSG sempat menguat 0,31 persen ke level 5.282. Namun, penguatan tersebut tidak berlanjut. Pada Kamis (29/10), indeks kembali anjlok 3,49 persen ke posisi 5.098.

Tekanan berlanjut pada Jumat (30/10) pagi. IHSG dibuka di level 5.066 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 5.116. Namun, indeks kemudian berbalik melemah hingga mencapai level terendah 4.979.

Pada data perdagangan Jumat pagi, IHSG tercatat turun 104,12 poin atau 2,04 persen ke level 4.993. Dengan posisi tersebut, IHSG turun sekitar 7,1 persen dibandingkan penutupan Senin (26/10). Angka ini merupakan perbandingan dari penutupan Senin dengan posisi IHSG pada Jumat pagi, bukan hasil penutupan perdagangan selama sepekan.

[Gambas:Video CNN]

(del/pta)
LIHAT SELENGKAPNYA