Transisi Energi di ASEAN Butuh Dana Jumbo US$400 Miliar per Tahun

CNN Indonesia
Minggu, 01 Nov 2026 11:02 WIB
Negara di kawasan ASEAN diperkirakan membutuhkan total investasi sekitar US$400 miliar atau Rp7.252 triliun per tahun untuk mencapai target transisi energi. iStock/HUNG CHIN LIU).
Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara di kawasan ASEAN diperkirakan membutuhkan total investasi sekitar US$400 miliar atau Rp7.252 triliun (kurs Rp18.130 per dolar AS) per tahun untuk mencapai target transisi energi.

Head of Energy Modelling and Policy Planning ASEAN Centre for Energy (ACE) Zulfikar Yurnaidi mengungkapkan angka fantastis tersebut merujuk pada studi ASEAN Energy Outlook ke-9.

"Nilai investasi yang dibutuhkan juga akan semakin tinggi. Kita memperkirakan sekitar US$400 miliar per tahun dibutuhkan regional ASEAN untuk bisa mencapai target-target mereka," ujar Zulfikar dalam acara Economic with Rully Kurniawan yang disiarkan YouTube CNN Indonesia, Kamis (29/10).

Selain itu, studi tersebut mengestimasi kebutuhan energi primer di negara-negara ASEAN akan melonjak hingga empat kali lipat atau 400 persen terhitung dari tahun ini hingga 2060.


Menurut dia, berbagai krisis yang melanda dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan ketahanan dan pasokan sumber energi kini harus berjalan beriringan dengan upaya diversifikasi serta pendorongan transisi energi.


Pihaknya telah menganalisis sejumlah skenario untuk menekan lonjakan tersebut, di antaranya melalui efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, serta elektrifikasi yang menjadi strategi penting bagi kawasan.


Ia meyakini langkah strategis tersebut mampu memangkas kebutuhan energi primer hingga setengahnya.


"Ke-11 negara ASEAN ini berkomitmen memajukan transisi energi yang berpusat kepada ketahanan energi, tetapi juga mengimbanginya dengan dekarbonisasi," ujar Zulfikar.


Zulfikar menjelaskan skenario yang dinamakan ASEAN Coordinated Transition Scenario ini sangat berfokus pada koordinasi antarnegara anggota.


Ia mengakui setiap negara memiliki kepentingan nasional masing-masing. Oleh karena itu, Zulfikar menyebut ACE memiliki pekerjaan rumah untuk menjembatani perbedaan tersebut.


Ia menilai ACE tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pemikir think tank dalam melakukan studi teknis, tetapi juga menjalankan peran layaknya diplomat.


"Jadi bagaimana caranya kita meyakinkan Indonesia, meyakinkan Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain, bahwa interest mereka nasional dengan interest regional itu sebenarnya bersamaan," ujar Zulfikar.

(dhz/agt)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK