Kemendag Kirim 7 Ton Cabai dari Jatim ke Halmahera Demi Tekan Harga

CNN Indonesia
Rabu, 04 Nov 2026 03:45 WIB
Kementerian Perdagangan mengintervensi kenaikan harga cabai di pasaran dengan menggelontorkan pasokan sebanyak 7 ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Febria Adha L).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengintervensi kenaikan harga cabai di pasaran dengan menggelontorkan pasokan sebanyak 7 ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera, Maluku Utara.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan langkah pengiriman pasokan antarwilayah ini dilakukan untuk menekan lonjakan harga dan menyeimbangkan ketersediaan bahan pangan di daerah yang mengalami kekurangan.

Budi menyebut pengiriman pasokan tersebut dilakukan melalui sinergi bersama pihak lainnya, yakni Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bank Indonesia (BI) dan pemerintah daerah.

"Kemarin kita kirim ke Halmahera ya, kan kita ngirim 7 ton dari Jawa Timur, karena Jawa Timur surplus cabai. Jadi kerja sama kita dengan Bapanas, kerjasama dengan BI dan pemerintah daerah," ujar Busan saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (3/11).

Budi mengungkapkan lonjakan harga cabai rawit maupun cabai merah yang terjadi belakangan ini utamanya dipicu oleh faktor cuaca ekstrem yang mengganggu pasokan panen di tingkat petani.

"Ya, faktor cuaca sih. Ya cuacanya seperti ini, jadi produksinya menurun," tuturnya.

Kendati demikian, ia menyebut daerah penghasil utama seperti Jawa Timur masih mencatatkan pasokan yang berlebih.

Oleh karena itu, Kemendag memfasilitasi logistik dan distribusi dari wilayah yang mengalami surplus ke wilayah yang defisit.

"Walaupun demikian kan tetap ada yang surplus, karena cabe ini kan diproduksi di daerah tertentu, makanya kemarin yang kita lakukan adalah dengan membantu pengiriman," ujar Budi.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan pada Selasa (3/11), harga rerata nasional cabai rawit merah mencapai Rp71.662 per kilogram (kg) dengan harga acuan (HA) Rp57 ribu per kg. Sementara, harga rerata nasional cabai merah keriting mencapai Rp67.480 per kg dengan HA Rp55 ribu per kg.

Tak hanya cabai, Budi menegaskan strategi pemerataan logistik serupa juga akan segera diterapkan pada komoditas pangan pokok lainnya yang mengalami ketimpangan harga akibat kendala jalur distribusi.

"Nanti dalam waktu dekat kita lagi mau persiapkan untuk bisa kirim ke komoditas lain, misalnya telur. Ya, telur yang surplus kita kirim ke yang kurang," jelasnya.

Ia menyampaikan komoditas telur ayam secara nasional sebenarnya dalam kondisi surplus dengan rata-rata harga nasional sebesar Rp26.400 per kg. Menurutnya, angka itu masih berada di bawah harga acuan penjualan sebesar Rp30 ribu per kilogram.

Berdasarkan data SP2KP Kementerian Perdagangan pada Selasa (3/11), harga rerata nasional telur ayam ras mencapai Rp26.254 per kg.

Namun, Budi menyampaikan bahwa tersendatnya distribusi membuat harga di sejumlah daerah melonjak tinggi.

"Sementara ada daerah tertentu yang distribusinya itu agak susah itu, naik. Sehingga kita akan kirim ke daerah-daerah yang harganya lebih tinggi sehingga harga menjadi stabil. Kalau harga stabil, harga sesuai acuan, maka peternak juga bisa terus jalan," pungkas Busan.

(fln/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK