Bos PGE Ungkap Dampak Sentimen MSCI ke Saham Perusahaan
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Ahmad Yani mengungkapkan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait pasar modal Indonesia turut berimbas pada pergerakan saham perusahaan.
"Kemudian juga (saham) PGE dari awal tahun di 2026 atau di akhir tahun di 31 Desember kemarin itu terkoreksi sekitar 8,89 persen," ujar Yani dalam acara Media Briefing Laporan Keuangan Kuartal III-2026 PGEO di Jakarta Pusat, Rabu (4/11).
Pada perdagangan hari ini, saham PGE ditutup di Rp965 atau turun 14,6 persen sejak awal tahun.
Kendati harga saham perusahaan ikut tertekan, Yani menegaskan kondisi tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap fundamental maupun rencana pertumbuhan bisnis emiten berkode PGEO tersebut di kemudian hari.
"Nah inilah bentuk kondisi pasar saat ini di Indonesia, tetapi kondisi ini tidak memberikan dampak kepada fundamental PGE, tidak berdampak kepada rencana pertumbuhan PGE," ujar Yani.
Ketangguhan fundamental perusahaan tersebut terbukti melalui capaian operasional yang mencetak rekor baru hingga kuartal ketiga tahun ini.
Dari sisi operasional, pembangkitan listrik dari operasi sendiri (own-operation generation) mencapai 4.113 GWh atau sudah memenuhi 78 persen dari target tahun penuh 2026 (FY26).
Angka pembangkitan listrik dari operasi sendiri (own-operation generation) tersebut tercatat telah memenuhi 78 persen dari total target tahun penuh 2026 (FY26).
Kinerja operasional yang andal ini juga tercermin dari capaian capacity factor sebesar 89,9 persen dan availability factor yang menyentuh 98,51 persen.
Lalu, PGE mencatatkan penghindaran emisi (emission avoidance) sebesar 3,48 juta ton setara karbon dioksida (tonCO2eq) jika dibandingkan dengan emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara.
Per September 2026, capaian operasional sejalan dengan kinerja keuangan perseroan. PGE berhasil membukukan total pendapatan sebesar US$352,20 juta.
Dari sisi profitabilitas, perusahaan membukukan Laba Bersih mencapai US$126,62 juta dengan EBITDA yang tercatat sebesar US$287,77 juta.
Pada pertengahan Oktober lalu, MSCI mengumumkan usulan untuk menurunkan kelas (reklasifikasi) pasar modal Indonesia dari status negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Usulan tersebut berujung pada aksi jual bersih investor asing (foreign net sell) secara masif.
Sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) hingga 2026, arus modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai Rp94,87 triliun.
Perginya dana asing tersebut memukul telak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 37,10 persen. Indeks terpantau terjun bebas dari posisi 8.647 pada 31 Desember 2025 menjadi 5.439 pada 23 Oktober 2026.
(dhz/sfr)