Mario Blanco, salah satu pewaris budaya Bali menuturkan, kebiasaan perempuan Bali tidak mengenakan busana berakhir sekitar tahun 1990-an. "Tapi ayah saya menciptakan atmosfer Bali di sini. Semua karyawan enggak pakai baju. Topless," katanya pada CNN Indonesia saat ditemui di Bali, Minggu (30/11).
Tempat yang dimaksud Mario, adalah Museum Blanco yang terletak di Desa Ubud, Bali. Mario merupakan putra Antonio Blanco, pelukis berdarah Spanyol yang memutuskan mendedikasikan hidupnya untuk Bali. Oleh Raja Ubud, Antonio diberi sepetak tanah yang digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus studio melukis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayah saya menciptakan atmosfer Bali di sini. Semua karyawan enggak pakai baju. Topless.Mario Blanco |
Dijelaskan Mario, lukisan-lukisan itu bukan dengan sengaja dibuat untuk menonjolkan keindahan tubuh perempuan. Ia mengatakan, goresan kuas sang ayah memang mengabadikan budaya Bali pada masa itu: perempuan-perempuan yang tanpa busana. "Saya melihat payudara perempuan sudah biasa, sudah dari kecil," ujar Mario.
Namun, meski tak mengenakan penyangga dan penutup seperti bra, payudara perempuan Bali yang dilukis Antonio tak ada yang kendur. Itu disebabkan kebiasaan mereka menyunggi benda di atas kepala. Setiap sembahyang di pura pun, sesaji mereka letakkan di atas kepala.
Atas nama pelestarian budaya lah, Antonio memutuskan karyawannya di Museum Blanco tak perlu mengenakan busana penutup dada. Tapi sekitar tahun 1990-an, mulai banyak wisatawan domestik yang berkunjung ke Ubud. Salah satu karyawan Museum Blanco dikejar-kejar lantaran tak pakai busana.
Akhirnya, diputuskan karyawan perempuan harus mengenakan kemban. Tapi, itu hanya saat ada tamu berkunjung. "Kalau di dalam, kembannya dibuka, jadi topless. Kalau ada tamu, gong dipukul dan kembannya dipakai untuk menghormati tamu," ujar Ketut, seorang staf Museum Blanco pada CNN Indonesia.
Kini, seiring perkembangan peradaban dan semakin banyaknya wisatawan yang masuk ke Ubud, budaya tanpa busana itu sudah tergerus. Karyawan perempuan di Museum Blanco pun sudah memakai kebaya khas Bali. "Waktu ayah saya meninggal tahun 1999, saya ganti seragamnya dengan kebaya," ujar Mario lagi, menerangkan.