Para peneliti meminta 100 mahasiswa untuk menyelesaikan beberapa kuesioner dan dua tugas komputerisasi dengan mengukur berapa banyak mata pelajaran yang membuat mereka merasa khawatir, merenung atau membuat mereka terobsesi. Subyek juga diharuskan menjawab pertanyaan tentang kebiasaan tidur dan jadwal tidur mereka.
Subyek yang menggambarkan diri mereka ‘evening people’, serta orang-orang yang memiliki jam tidur lebih sedikit pada malam hari, ditemukan mengalami pikiran yang lebih negatif daripada mereka yang menggambarkan diri mereka sebagai ‘morning people’, serta orang-orang yang memiliki jam tidur lebih lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pikiran negatif yang terjadi berulang-ulang, seperti yang dijelaskan oleh mahasiswa yang begadang, sering dikaitkan dengan depresi, kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan stres pasca-trauma.
"Jika temuan lebih lanjut mendukung hubungan antara waktu tidur dan berpikir negatif berulang, suatu hari akan bisa digunakan untuk pengobatan individu yang memiliki gangguan internalisasi," kata Dr Meredith Coles. "Mempelajari hubungan antara penurunan durasi tidur dan psikopatologi telah menunjukkan bahwa fokus pada tidur di klinik juga menyebabkan pengurangan gejala psikopatologi." tambahnya, seperti dilansir dari laman Huffingtonpost.
(chs/mer)