Selama satu hari, jumlah air yang dikeluarkan oleh tubuh dengan kondisi normal melalui air seni, buang air besar, keringat, dan saluran napas sekitar 2,5 sampai 3 liter. Oleh karena itu, air yang dibutuhkan untuk mengganti cairan dalam tubuh jumlahnya harus sama dengan jumlah yang dikeluarkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Tunggul, saat mengalami dehidrasi maka tekanan darah akan turun, begitu juga dengan aliran darah dan kerja pompa ginjal. Kurang minum air juga membuat si empunya tubuh berisiko mengalami batu ginjal.
Saat tubuh kekurangan air, konsentrasi urine akan menjadi lebih pekat. Secara awam bisa diamati dengan warna urine yang lebih kuning dan keruh.
Perlu diketahui, di dalam urine juga terkandung zat-zat yang bisa mengkristal. Saat kondisinya lebih pekat, maka kemungkinan terjadi penumpukan kristal di ginjal akan lebih besar. Itu sebabnya kurang minum air berisiko batu ginjal.
“Secara alamiah sebenarnya tubuh tidak akan mengalami dehidrasi, karena ketika tubuh kurang cairan akan timbul sinyal rasa haus. Kalau sudah haus harus segera minum,” ujarnya.
Namun, dalam kondisi tertentu tubuh bisa kekurangan air karena hilangnya cairan secara signifikan. Misalnya karena diare atau pendarahan.
(mer)