Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua di Dunia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Minggu, 15/02/2015 16:45 WIB
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua di Dunia Anak-anak berenang diantara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa titik lautan di dunia dipenuhi oleh sampah plastik. Berdasarkan penelitian ilmuwan yang dirilis di jurnal Science pada Kamis (12/2) dan dikutip Reuters, ada sekitar lima kantung belanja penuh plastik di setiap 30 cm dari garis pantai setiap negara di dunia.

Berdasarkan data tahun 2010, 192 negara pesisir di dunia menghasilkan 275 juta ton sampah plastik. Delapan juta ton-nya 'disumbangkan' ke lautan. Berdasarkan meningkatnya kadar limbah, diperkirakan akan ada lebih dari sembilan juta ton polusi plastik di lautan sampai akhir 2015.

Ilmuwan telah menyenandungkan bahaya polusi plastik di lautan itu, selama beberapa tahun terakhir. Limbah itu bisa membunuh burung laut, mamalia laut, penyu, dan mahkluk-makhluk lain. Ekosistem laut pun jelas-jelas dirusak.


Siapa yang ada di balik itu semua? Negara berpenduduk terpadat, Tiongkok merupakan penghasil polusi plastik tertinggi di dunia. Setiap tahunnya, diperkirakan Negeri Tirai Bambu itu menghasilkan 2,4 juta ton polusi plastik. Di posisi kedua, ada Indonesia.

Tidak dijelaskan dalam penelitian itu, berapa banyak plastik yang dibuang masyarakat Indonesia. Yang jelas, Indonesia bukan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang bertanggung jawab atas sampah plastik di lautan. Setelah Indonesia ada Filipina, Vietnam, Sri Lanka, Thailand, Mesir, Malaysia, Nigeria, dan Bangladesh.

Dari 20 besar penyumbang sampah plastik terbanyak, Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara dengan industri maju dan kaya. Sampah yang dihasilkan termasuk tas belanja, botol, mainan, pembungkus makanan, filter rokok, kacamata hitam, ember, sampai dudukan toilet.

"Singkat kata, sebutkan apa saja dan itu mungkin ada di lingkungan perlautan," kata Kara Lavender Law, profesor riset kelautan yang bekerja sama dengan Sea Education Association.

Menurutnya, kebutuhan paling mendesak adalah menampung sampah plastik dan mencegahnya masuk lingkungan. "Berarti harus ada investasi dalam infrastruktur pengelolaan sampah, terutama di negara-negara dengan ekonomi berkembang pesat," ujar Law menyarankan.

"Di negara-negara berpenghasilan tinggi, kami juga memiliki tanggung jawab untuk mengurangi jumlah sampah, terutama sampah plastik, yang kami buat," tambahnya.

Riset yang menyebutkan negara-negara penyumbang polusi plastik laut itu, didasarkan pada data Bank Dunia untuk sampah yang dihasilkan per orang di semua negara dengan garis pantai, kepadatan penduduk pesisir, produsen sampah plastik, dan kualitas pengelolaan limbah.

"Saya rasa ini adalah peringatan untuk berapa banyak sampah yang kita hasilkan," kata Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, seperti dikutip Reuters.