Sepenggal Sejarah Tentang Feng Shui dan Ramalan Keberuntungan

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Rabu, 18/02/2015 13:40 WIB
Sepenggal Sejarah Tentang Feng Shui dan Ramalan Keberuntungan Ilustrasi tahun Kambing Kayu (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada satu hal yang ramai dibicarakan jika Tahun Baru Imlek tiba, Feng Shui. Secara harfiah, Feng Shui berasal dari bahasa Tiongkok, yaitu Feng yang berarti angin (arah) dan Shui yang berarti air.

Feng Shui merupakan sebuah ilmu yang telah dikembangkan sejak abad ke-16 sampai abad ke-2 sebelum Masehi. Dikutip dari Klik Fengshui, pada awal kemunculannya, Feng Shui dikenal dengan nama Bu Zhai, yaitu metode peramalan dengan menggunakan cangkang kura-kura untuk menilai sebuah lokasi menguntungkan atau tidak. Pakar ilmu ini disebut Fang Shi, yaitu seseorang yang mempelajari ilmu alam dan metafisika.

Dalam perkembangannya, Feng Shui pun mengalami perubahan. Sejak abad ke-2 sebelum Masehi sampai abad ke-2 Masehi, Feng Shui mulai disebut dengan istilah Kan Yu, yang berarti bahwa manusia mengerti kehendak alam semesta, sehingga di mana dia tinggal dia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut tanpa ingin melawannya. Pada masa tersebut Feng Shui aliran bentuk dan aliran kompas mulai terpecah dan masing-masing mulai membentuk teorinya.


Perkembangan ilmu Feng Shui pun tak berhenti, sampai Feng Shui tiba pada masa kelamnya. Pada abad 12 sampai 13 Masehi, Tiongkok yang sedang dijajah oleh Bangsa Mongolia kala itu, mulai dihambat perkembangan budayanya. Banyak sekali buku-buku Feng Shui yang dibakar, sampai ilmu Feng Shui pun sempat menghilang selama hampir 100 tahun.

Setelah abad ke-13 sampai abad ke-19, ketika kekuasaan Bangsa Mongolia digulingkan, semua ilmu Feng Shui kembali berkembang. Bahkan mulai banyak orang awwam yang mempelajarinya.

Namun, setelah berdirinya RRC, Feng Shui dianggap sebagai ilmu takhayul dan membodohkan rakyat. Praktik-praktik ini pun akhirnya dilarang oleh negara selama 50 tahun lebih dan hanya dipraktikkan di negara Hong Kong, Taiwan, dan negara-negara Asia Tenggara.

Para perantauan Tionghoa pun akhirnya menyebarluaskan ilmu ini ke seluruh dunia dengan tujuan untuk meneruskan kebudayaan dan tradisi. Tapi tak jarang orang menyebarkannya dengan label komersialisasi. Dengan kemajuan teknologi informasi dan transportasi, Feng Shui pun banyak mengundang peminat dari seluruh dunia tanpa batasan.

Menurut pakar Feng Shui Indonesia, Djohar Koh, saat ini banyak yang salah pengertian dengan ilmu Feng Shui. "Saat ini banyak yang salah pengertian. Mereka menganggap Feng Shui hanya milik agama tertentu, milik Tionghoa, padahal bukan milik siapa-siapa. Feng Shui berlaku untuk semua orang," kata lelaki yang akrab disapa Pak Koh ini saat ditemui di Kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Selama ini Feng Shui dikenal hanya untuk menentukan tata letak atau segala hal yang berhubungan dengan rumah atau bangunan lainnya. Kini, Feng Shui pun bisa digunakan untuk memprediksikan keberuntungan Anda, mulai dari peruntungan bisnis, kesehatan, dan banyak hal lainnya.



(mer/mer)




ARTIKEL TERKAIT