Cerita Dahsyatnya Letusan Gunung Tambora 200 Tahun Lalu

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2015 08:45 WIB
Cerita Dahsyatnya Letusan Gunung Tambora 200 Tahun Lalu Letusan Gunung Tambora 200 tahun lalu termasuk yang terdahsyat di Indonesia. (Jialiang Gao/wikimedia commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua ratus tahun lalu, Indonesia berguncang hebat. Salah satu gunung berapi tertingginya memuntahkan isi perut bumi ke daratan.

Kala itu, tepatnya pada 10 April 1815, Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus hebat. Letusannya memuntahkan material lebih dari 150 miliar meter kubik. Bahkan, kuatnya letusan tersebut mengikis kemegahan Gunung Tambora, dari yang semula 4.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi 2.700 mdpl.

Guncangan akibat letusan pun memunculkan kawah sedalam 1.100 meter dengan diameter seluas 6,2 kilometer. Kepulan asapnya pun konon mencapai 43 kilometer dengan abu vulkanik yang menyebar hingga ke Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Gemuruhnya terdengar hingga Pulau Sumatera yang berjarak sekitar 2.600 kilometer dari Tambora.


Tak ayal, letusan yang sangat luar biasa itu pun mampu merenggut nyawa lebih dari 91 ribu jiwa dan meluluhlantakkan tiga kerajaan di kaki gunung Tambora. Kerajaan Sanggar porak poranda, sedangkan Kerajaan Tambora dan Pekat lenyap tak bersisa.

Muntahan Gunung Tambora bahkan sanggup 'menutup' matahari. Abu vulkanik Gunung Tambora mampu mengundang kegelapan di Pulau Sumbawa hingga radius 600 kilometer dari puncak Gunung Tambora.

Abu vulkanik yang membumbung tinggi di angkasa bahkan sampai memengaruhi iklim di seluruh dunia selama berbulan-bulan. Daratan Eropa dan Amerika Utara mengalami musim dingin lebih panjang. Bahkan di Australia dan Afrika Selatan, salju turun di musim panas, abu vulkanik memengaruhi penurunan suhu bumi. Akhirnya pada masa itu akibat letusan Gunung Tambora dunia mengalami 'A year without summer' atau tahun tanpa musim panas.

Akibat kondisi ini banyak tumbuhan dan hewan yang mati. Banyak petani gagal panen dan peternak merugi akibat hewan peliharaannya mati. Kelaparan pun merebak di mana-mana. Bahkan para korban yang selamat dan lolos dari keganasan letusan Gunung Tambora juga menderita luar biasa. Air yang mereka konsumsi terkontaminasi material beracun dari abu vulkanik sehingga membuat mereka terserang berbagai penyakit.

Kala itu bukan kali pertama Gunung Tambora meletus. Berdasarkan teknik penanggalan radiokarbon, Gunung Tambora sebenarnya sudah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815. Tapi, tidak diketahui betul sebesar apa letusan yang dihasilkan.

Gunung Tambora tergolong gunung berapi komposit atau stratovulcano. Gunung ini merupakan gunung api aktif berbentuk kerucut yang terdiri atas lava dan abu vulkanik yang mengeras.

Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara).

(mer/mer)