Nasib Perempuan yang Cacat Hanya karena Berbagi Kuas Make-up

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Jumat, 10/04/2015 09:05 WIB
Nasib Perempuan yang Cacat Hanya karena Berbagi Kuas Make-up kuas make-up (KaboomPics)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jo Gilchrist tak menyangka, aktivitas seumur hidupnya harus dilakukan di atas kursi roda. Bulan Februari lalu, ia mendapati dirinya mengalami nyeri punggung yang luar biasa dahsyat. Rasa sakit ini tak kunjung berhenti.                   

"Saya benar-benar berpikir kalau saya akan mati," kata Gilchrist, dikutip dari Womans Day. "Rasa sakitnya lebih parah dibanding melahirkan."

Awalnya, ia pikir rasa sakitnya disebabkan karena postur tubuh yang salah. Tapi kondisinya justru semakin buruk. Ia pun harus segera menjalankan operasi darurat. Dokter menemukan bahwa ibu muda ini mengalami infeksi Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Bakteri ini menyerang tulang punggungnya.


Sejak saat itu, dia dirawat di rumah sakit Brisbane Princess Alexandra Hospital. Para dokter berupaya keras untuk membersihkan tubuhnya dari bakteri tersebut.

Operasi ini ternyata tak membuatnya bisa kembali normal. Nyatanya, serangan bakteri ke tulang punggung Gilchrist ini membuatnya harus duduk di kursi roda seumur hidup. Apa penyebabnya?

Gilchrist sepertinya tahu apa penyebabnya. Sepele, hanya karena sebuah kuas make-up. Bagaimana bisa? Perempuan ini memiliki dugaan di mana dia terpapar bakteri resisten antibiotik itu.

"Satu-satunya cara paling mudah untuk memasukkan bakteri ini ke tubuh adalah lewat kuas make-up," ucapnya. Kuas make up ini digunakannya untuk menutupi jerawat di wajahnya.

"Teman saya memang memiliki infeksi staph di wajahnya. Dan saya memakainya. Saya tidak tahu kalau hal ini bisa terjadi, jadi saya berbagi dengan teman-teman saya sepanjang waktu."

Meski harus duduk di kursi roda dan dirawat selama tiga bulan sebelum diperbolehkan pulang, perempuan ini mengaku masih beruntung. Ia masih beruntung karena bakteri ini 'pergi' ke bagian punggungnya. Dia mengatakan kalau ia akan mendapat konsekuensi yang lebih buruk seandainya bakteri ini menyerang anggota tubuhnya. Bagaimana tidak, ini akan menyulitkan dirinya untuk bisa bergerak dan hidup mandiri kala merawat putranya yang berusia dua tahun, Tommy.

"Saya merasa seperti memiliki kesempatan kedua dalam hidup," katanya. "Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan, dan saya sudah mendapat semangat lagi untuk berjuang hidup."



(chs/mer)


ARTIKEL TERKAIT