Dokter gigi sekaligus GSK Oral Health Care Expert Marketing, Jehezkiel Martua mengatakan, ada beberapa kesalahan yang biasa dilakukan dalam menyikat gigi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lapisan email gigi yang terkikis membuat lapisan dentin terekspos. Inilah yang menyebabkan gigi Anda sensitif. "Lapisan dentin berbatasan langsung dengan saraf gigi. Ketika dentin terkena rangsang akan melanjutkan langsung ke saraf. Makanya gigi bisa ngilu," kata laki-laki yang akrab di sapa Eki itu.
Selain tekanan penyikatan, perihal durasi menggosok gigi pun orang Indonesia masih keliru. "Kebanyakan orang Indonesia maunya cepat, di bawah satu menit," ujar Eki.
Padahal, durasi menyikat gigi yang seharusnya berkisar antara 2-3 menit lamanya. "Itu untuk memastikan seluruhnya tersikat. Memastikan tidak ada sisa makanan," kata Eki.
Hal lainnya terkait penyikatan gigi yang salah adalah ketika kumur-kumur. Biasanya, orang Indonesia berkumur sebanyak 3-4 kali, kalau tidak, nanti tidak bersih.
Padahal menurut Eki, berkumur sehabis menyikat gigi tak perlu sebanyak itu. "Kalau kumur 3-4 kali bahan aktif di pasta tercuci lagi, terbuang lagi," kata Eki. "Akhirnya terbuang percuma," ujarnya menambahkan.
Hal ini menyebabkan, pasta gigi yang seharusnya bekerja untuk menjaga kesehatan gigi, fungsinya berkurang atau hilang sama sekali.
Jumlah berkumur yang terlalu banyak kemungkinan disebabkan oleh karakter pasta gigi yang beredar di pasaran. Eki mengatakan, pasta gigi yang beredar di Indonesia terlalu banyak mengandung sodium lauryl sulfat yang menimbulkan busa.
Akibatnya, sebelum busa benar-benar menghilang, pasti berkumur masih diteruskan dengan alasan merasa tidak bersih. "Cari pasta gigi yang kandungan SLS-nya sedikit atau tidak sama sekali," ujar Eki menganjurkan.
(mer/mer)