Direktur Promosi Wisata Dalam Negeri Kementerian Pariwisata, Tazbir, bercerita tentang betapa pentingnya sumber daya manusia yang terlibat dalam dunia pariwisata. Bahkan dari segi kesehatannya pun harus diperhatikan.
"Waktu itu ada orang Jerman marah-marah," kata Tazbir, dalam acara Pembekalan Kepariwisataan Bagi Jurnalis yang diadakan di Hotel Salak The Heritage, Bogor, Jawa Barat. "Dia naik taksi, supirnya batuk-batuk, pilek. Terus dia komplain."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun bingung. Bagaimana mengatasi hal itu karena di perusahaan taksi pun pasti regulasi terkait sakit batuk atau pilek tidak ada. "Mereka bilang, 'kami takut'," ujar Tazbir.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta itu pun menyayangkan kondisi tersebut. Betapa para turis mancanegara begitu memerhatikan soal kesehatan seorang supir taksi yang membawanya berkeliling.
Hal itulah yang dinilai Tazbir luput dari pandangan para pelaku usaha saat ini. "Itu karena kita tidak fokus pada hospitality," kata Tazbir.
Bahkan tak hanya soal kesehatan. Orang Indonesia pun dinilai suka memanfaatkan keadaan. Misalnya saja pada turis yang tidak tahu jalan atau baru pertama kali singgah di sebuah kota atau tempat.
"Mau naik kendaraan umum malah supirnya yang nanya mau lewat mana. Padahal orangnya baru pertama kali," ujar Tazbir. Kondisi ini dimanfaatkan oleh mereka dengan mengambil rute paling jauh dan menawarkan harga yang mahal.
(mer/mer)