Rupanya, layar sentuh tidak lagi mengenali sidik jarinya. Bahkan, dia kini tak punya sidik jari sama sekali. Bagaimana bisa?
Dokter yang menangani penyakit perempuan itu segera memberikan penjelasan dan kemudian memublikasikan studi kasus dalam jurnal medis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama siklus pertama pengobatan kemoterapi, ia telah mengembangkan hand-foot syndrome level satu. Secara medis, hal ini dikenal sebagai palmar-plantar erythrodysesthesia, efek samping yang dikenal dari beberapa obat kemoterapi.
Pilihan Redaksi |
Seorang pasien kanker payudara bernama Lisa Bonchek Adams juga pernah mengalami sindrom serupa. Dalam blog pribadinya, Lisa menuliskan pengalaman dirinya menderita hand-foot syndrome.
“Saya sering menggunakan pelembap tangan dan kaki (setidaknya 10 kali sehari), juga berbagai losion termasuk shea butter, Eucerin, Aquaphor, dan banyak lagi,” tulisnya. “Saya tidak bisa jauh dari air, tidak bisa kena panas pada tangan dan kaki, memakai kaus kaki dan sepatu yang lembut, dan memakai sarung tangan sesering mungkin.”
Dalam kasus perempuan Meksiko yang kehilangan sidik jarinya, ahli onkologi yang menanganinya mengatakan tidak ada kekhawatiran sebelumnya. Pada awalnya, hand-foot syndrome yang dialami perempuan itu berhasil diobati dengan salep topikal dan krim.
Namun, setelah ia menjalani siklus ketiga kemoterapi, gejalanya semakin memburuk. Bahkan, sindrom itu menjadi begitu ‘beracun’ hingga dia tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari.
Pengobatan kanker payudara yang dijalaninya tidak bisa dihentikan begitu saja meski ia mengalami efek samping yang melemahkan. Dan beruntung bagi perempuan itu, meski kini ia tidak lagi memiliki sidik jari, pengobatan kanker yang dijalaninya sudah banyak berhasil.
(mer/mer)