"Untuk tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Tempat sama, namun kami ingin tahun ini lebih banyak mitra internasional," kata Lenni Tedja, Direktur Jakarta Fashion Week ketika ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (28/4).
JFW tahun ini pun kembali bekerja sama dengan Istituto Marangoni yang berasal dari Milan. Istituto Marangoni adalah lembaga yang memberikan besiswa kepada desainer JFW yang dianggap berpotensi untuk ke pasar internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"JFW menjadi jembatan para desainer Indonesia untuk ke kancah internasional, kami membantu mereka mempersiapkan diri ketika tampil di pegelaran internasional, jadi bukan hanya menentukan tren fesyen tahun berikutnya," kata Lenni.
Salah satu bukti kesuksesan JFW menjadi tren fesyen, diungkapkan Lenni ketika ia menerima kenyataan bahwa desain yang diperagakan dalam JFW ditiru oleh para pedagang di Tanah Abang. "Bagi saya itu sebuah kebanggaan," kata Lenni.
JFW terhitung telah memiliki 40 desainer binaan yang mulai berlaga di pentas internasional. Desainer yang memiliki potensi di JFW akan dipromosikan untuk mengikuti pekan fesyen di berbagai tempat di dunia seperti Tokyo dan Bangkok.
Pekan fesyen yang pertama kalinya dibuat delapan tahun lalu ini juga bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan RI. Kemendag mencatat untuk JFW tahun lalu telah tercatat transaksi sebesar Rp 750 juta selama acara berlangsung.
Simon Zilotes, Kepala Balai Besar Pelatihan Ekspor Indonesia Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional menargetkan peningkatan sepuluh hingga 15 persen transaksi pada JFW tahun ini.
"Menteri Perdagangan kami menargetkan peningkatan ekspor tiga kali lipat, semoga JFW ini dapat ikut memicu peningkatan tersebut." kata Simon.
(mer/mer)