Dalam 'pertempuran' di kepala, penelitian menunjukkan bahwa apa yang Anda makan akan mengalahkan berapa banyak Anda bergerak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pendapat bahwa Anda bisa makan apa yang disukai selama Anda terus berolahraga adalah pendapat yang menyesatkan dan tidak ilmiah," kata Aseem Malhotra, ahli jantung di London serta salah satu penulis editorial. "Anda tidak bisa lari dari diet yang buruk."
Dalam editorial yang dituliskan Malhotra, selama 30 tahun terakhir, tingkat aktivitas fisik manusia tak banyak berubah. Ironisnya, justru tingkat obesitas dan diabetes makin meroket. Bahkan belakangan banyak atlet yang justru menyedot minuman olahraga dan minuman manis lainnya karena mereka percaya kalau tubuh membutuhkan sumber energi dari gula untuk bisa berolahraga. Hal ini justru berpotensi meningkatkan risiko diabetes tipe dua.
Lalu mana yang lebih penting antara diet dan olahraga? Dari semua bukti justru lebih mendukung pentingnya melakukan diet tepat dibanding olahraga. Dalam sebuah laporan terbaru di jurnal Obesity mengungkapkan bahwa olahraga teratur setiap hari, tanpa dikombinasikan dengan perubahan diet yang sesuai, jarang sekali membuat penurunan berat badan yang signifikan. Bahkan faktanya, justru memicu penambahan berat badan.
Di sisi lain, banyak penelitian telah menghubungkan adanya perubahan diet yang sesuai untuk menurunkan berat badan dan risiko rendah terserang penyakit ternyata lebih mujarab, terlepas dari kebiasaan olahraga seseorang.
Jadi idealnya, perbaikilah pola makan Anda terlebih dulu agar bisa hidup sehat dan langsing. Setelahnya baru kombinasikan dengan melakukan berbagai aktivitas fisik yang teratur. "Untuk mengoptimalkan kesehatan, beberapa aspek dari latihan olahraga juga harus disertakan," kata Astorino.
Namun jika Anda tetap bertanya-tanya mana lebih penting dan utama ketika Anda ingin diet, maka Maholtra mengatakan dengan tegas untuk lebih fokus pada diet.
(chs/mer)