Seperti dilansir The Telegraph, para peneliti mengungkapkan bahwa para pemain video game tersebut menggunakan bagian kunci dari otak yang disebut nukleus kaudatus untuk menavigasi. Hal ini memicu berkurangnya materi abu-abu dalam hipokampus.
Hipokampus adalah bagian otak yang mengontrol ingatan, proses pembelajaran, dan emosi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa berkurangnya volume hipokampus berhubungan dengan penyakit neurologis dan psikologis seperti dementia dan depresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengambil sampel 26 orang penggemar video game dan 33 anak lain yang tidak menyukainya. Mereka memakai topi tengkorak yang merekam gelombang otak dan gerakan mata saat disuruh memperhatikan deretan pohon virtual.
"Ini berarti orang yang banyak bermain video game action dapat menurunkan integritas hipokampus yang berhubungan dengan bertambahnya risiko kerusakan neurologis seperti penyakit Alzheimer," ujar salah satu dokter dari University of Montreal, Gregory West.
Namun, para peneliti mengatakan bahwa harus ada pemindaian otak untuk hasil lebih lanjut. Pemindaian juga dibutuhkan untuk meneliti video game aksi tertentu yang mengakibatkan risiko lebih tinggi.
Para peneliti membeberkan bahwa kini orang di seluruh dunia menghabiskan waktu tiga miliar jam sepekan untuk bermain video game. Menurut perkiraan, anak-anak akan menghabiskan waktu hingga 10 ribu jam untuk bermain video game saat berumur 21 tahun.
(utw/utw)